Selasa, 22 Juni 2010

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

dalam Pencapaian Standar Nasional Pendidikan

yang Terkait dengan Pembelajaran Matematika

M. Salman A.N.

Kelompok Keahlian Matematika Kombinatorika

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Teknologi Bandung

Jl. Ganesa 10 Bandung 40132

email: msalman@math.itb.ac.id

Standar nasional pendidikan

Pendidikan nasional Indonesia harus sejalan dengan amanat pasal 31 UUD

Negara RI Tahun 1945 tentang Pendidikan dan Kebudayaan. Secara

operasional pelaksanaan pendidikan harus merupakan realisasi UU RI No. 20

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Oleh karena itu,

pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan

peningkatan mutu pendidikan nasional di tengah perubahan global. Melalui

pendidikan nasional setiap warga negara Indonesia diharapkan menjadi

manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,

cerdas, produktif, berdaya saing tinggi, dan bermartabat di tengah pergaulan

internasional. Dalam hubungan ini segala upaya perlu dilakukan agar

pelaksanaan pendidikan nasional dapat berhasil sehingga tujuan pendidikan

nasional dapat tercapai.

Dewasa ini terjadi perubahan paradigma pembelajaran dari yang berpusat

pada guru ke yang berpusat pada peserta didik. Pembelajaran yang berpusat

pada peserta didik menjamin terlaksananya pembelajaran bermakna. Para

peserta didik didorong membangun sendiri pemahamannya, dan guru

berperan sebagai fasilitator. Guru bukanlah satu-satunya sumber

pengetahuan bagi peserta didik. Sumber pengetahuan tersebut sesungguhnya

demikian banyak dan semuanya berada dalam lingkungan sekitar, sehingga

peserta didik dituntut lebih aktif dan kreatif dalam belajar.

Perubahan paradigma pembelajaran ini menuntut perubahan proses

pembelajaran dan hal lain termasuk yang berkaitan dengan sarana dan

prasarana. Sarana dan prasarana seyogyanya dirancang agar pembelajaran

yang berpusat pada peserta didik dapat terlaksana secara optimal. Pada

kenyataannya sebagian besar sarana dan prasarana pada berbagai jenis dan

jenjang pendidikan di Indonesia belum mendukung terlaksananya

pembelajaran yang diinginkan.

Kondisi saat ini menunjukkan banyak sekolah di Indonesia belum memiliki

sarana dan prasarana yang memadai baik dalam hal kuantitas maupun

kualitas. Permasalahan lain adalah masih adanya kesenjangan ketersediaan

sarana dan prasarana antar sekolah dan antar daerah. Atas dasar kenyataan

itu, ditetapkan standar minimum sarana dan prasarana sekolah-sekolah di

Indonesia dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 24 Tahun

2007. Diharapkan dengan adanya standar ini keberadaan sarana dan

2

prasarana mampu mendukung pembelajaran dalam rangka peningkatan mutu

pendidikan.

Standar sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu dari delapan

standar pendidikan yang disiapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan

(BSNP) berdasarkan amanat yang dituangkan dalam UU RI No. 20 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Standar lainnya adalah standar isi,

standar proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga kependidikan,

standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan

(lihat http://www.bsnp-indonesia.org/standards.php).

Standar kompetisi dan kompetisi dasar matematika

Pada abad ke-20 matematika telah membawakan suatu kegiatan intelektual

yang tingkat kecanggihannya sangat tinggi, meskipun matematika sendiri

tidak mudah untuk didefinisikan. Subjek yang sekarang dikenal sebagai

matematika pada awalnya merupakan hasil perkembangan terdahulu dari

konsep bilangan, pengukuran, dan bentuk. Secara sederhana, matematika

didefinisikan sebagai studi tentang besaran, dan keterkaitannya dengan

bilangan atau simbol. Dalam matematika dikenal berbagai subjek penting,

aritmetika, geometri, aljabar, kalkulus, probabiliti, statistik, dan banyak lagi

topik khusus dalam penelitian.

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan

teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan

memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang TIK dewasa

ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar,

analisis, teori peluang, dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan

mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang

kuat sejak dini.

Mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik untuk

membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis,

kritis, dan kreatif, serta mampu bekerjasama. Kompetisi tersebut diperlukan

agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan

memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu

berubah, tidak pasti, dan kopetitif.

Standar kompetisi dan kompetisi dasar matematika disusun sebagai landasan

pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain

itu, dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan

matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau

gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.

Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran

matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah

terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara

penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu

dikembangkan ketrampilan memahami masalah, membuat model

matematika, menyelesaikan masalah dan menafsirkan solusinya.

3

Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai

dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi. Dengan mengajukan

masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk

menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan

pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan TIK seperti komputer, alat

peraga, atau media lainnya.

TIK dan pembelajaran matematika

Memasuki abad ke-21, bidang TIK berkembang dengan pesat yang dipicu

oleh temuan dalam bidang rekayasa mikroelektronika. Perkembangan ini

berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan

aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada TIK. Perkembangan TIK

telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam

proses pembelajaran. Terjadi pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:

dari ‘ruang kelas’ ke ‘di mana saja’, dari ‘waktu siklus’ ke ‘waktu nyata’, dari

‘kertas’ ke ‘on line’, dan dari ‘fasilitas fisik’ ke ‘fasilitas jaringan kerja’.

Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan

tatap muka, tetapi dapat juga dilakukan dengan menggunakan media-media

komunikasi seperti telepon, sms, dan e-mail. Guru dapat memberikan layanan

tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula, siswa dapat

memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui

internet.

Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan internet

sebagai media utamanya mampu memberikan kontribusi yang demikian besar

bagi proses pendidikan. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi

terjadinya perubahan mendasar terhadap peran guru: dari informasi ke

transformasi.

Sebagai seorang professional, guru memiliki lima tugas pokok, yaitu

merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi

hasil pembelajaran, menindaklanjuti hasil pembelajaran, serta melakukan

bimbingan dan konseling. TIK tentunya dapat berperan pada kelima tugas

pokok tersebut.

Dalam pembelajaran matematika yang paling penting ditekankan adalah

ketrampilan dalam proses berpikir. Siswa dilatih untuk dapat mengembangkan

kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, dan konsisten. Untuk

membantu dalam proses berpikir tersebut, gambar dan atau animasi dapat

digunakan. TIK dapat berperan di sini. Dalam perencanaan pembelajaran

guru dapat memperkaya materi yang akan disampaikan dengan mengambil

beberapa contoh kontekstual yang ada di dunia maya dengan bantuan

internet.

Pada saat pelaksanaan pembelajaran, komputer dapat digunakan sebagai

media. Komputer bisa menyajikan media dalam bentuk grafis dan audiovideo.

Tentunya ini akan menambah daya tarik bagi siswa dalam belajar. Sifat

kemonotonan penyajian pada pengajaran ‘konvensional’ dapat dikurangi.

Pembelajaran matematika yang selama ini dianggap sangat ‘menakutkan’

4

tidak perlu terjadi karena prosesnya diberikan secara menarik dan

menyenangkan oleh guru mata pelajaran tersebut. Dengan bantuan beberapa

perangkat lunak beberapa konsep matematika seperti volume benda putar,

konsep limit, dan geometri dengan mudah dapat diterangkan dan bukti-bukti

matematika dapat disajikan dengan lebih menarik.

Dengan TIK, soal evaluasi dapat dengan mudah dibuat beragam. Soal-soal

dengan mudah dapat dikombinasikan untuk mendapatkan beberapa paket

soal. Ini tentunya akan membantu mengurangi kecurangan dalam

pengerjaannya. Walaupun soal dibuat beraneka ragam, dengan bantuan TIK

proses penilaian masih dapat dibuat cepat. Selanjutnya, dengan e-mail atau

jalinan komunikasi antara guru dengan siswa atau dengan orang tua siswa

dapat ditingkatkan. Jika terdapat masalah pada peserta pembelajaran, maka

akan cepat didiskusikan cara penyelesaiannya. Tentunya ini akan

meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu, guru atau siswa dengan

bantuan internet dapat dengan mudah untuk mendapatkan informasi

tambahan yang akan membantu memperkaya wawasan.

Kesimpulan

TIK dapat berperan dalam pembelajaran matematika. Guru dapat

memanfaatkan TIK dalam membantu pelaksanaan tugas pokoknya. Materi

pembelajaran dapat dibuat lebih menarik sehingga siswa akan lebih

termotivasi dalam belajar. Selain itu, siswa dan guru mudah mendapatkan

pengkayaan materi ajar sehingga akan meningkatkan pemahaman dan

penguasaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar