KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”
DI SUSUN OLEH :
IRWAN JAYA ,S.Pd
NIP 510 156 631
UNIT KERJA
SMKN 1 PAMEKASAN
PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMK NEGERI 1 PAMEKASAN
Jalan Pintu Gerbang 157 Telp. (0324) 322355 Fax. 328409
PAMEKASAN 69316
KATA PENGANTAR
Dengan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa kami panjatkan karena berkat
dan petunjuknya kami dapat menyusun Makalah dengan judul “.KETERAMPILAN
DASAR MENGAJAR KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”
Makalah ini merupakan bahan kajian mengenai suatu sistem untuk
menghasilkan informasi berkenaan dengan tersebut dapat digunakan dalam
rangka Pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum Tiingkat Satuan
pendidikan pada setiap sekolah..
Dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dewasa ini di perlukan
beberapa metode dalam pembelajaran Bidang studi IPA yang tidak terlepas
dengan penguasaan atau media yang menggunakan Teknologi dan Informatika..
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penyusunan makalah, semoga dapat meningkatkan hasil proses
belajar-mengajar yang maksimal dan upaya peningkatan mutu sumber daya
manusia melalui sekolah menengah kejuruan akan benar-benar mencapai
sasaran.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih ada
kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun
sangat kami harapkan untuk memperbaiki penerbitan berikutnya.
Hormat kami
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab I Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 1
C. Ruang Lingkup 1
Bab II KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR BIDANG STUDI IPA 4
A. Hakekat Pengajaran Sains dengan menggunakan TIK 4
B. Keterampilan Mengajar Demonstrasi 7
C. Keterampilan Mengajar Eksperimen Dengan Menggunakan TIK 11
Bab III Penutup 15
Daftar Pustaka 16
Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Saat ini sedang dikembangkan paradigma baru kurikulum pendidikan dasar
dan menengah dimana kini guru diharapkan hanya sebagai fasilitator dalam
proses belajar mengajar, dengan pembelajaran yang lebih realistik dan aplikaif
khususnya bidang pelajaran IPA, Oleh karena itu perlu dikermbangkan materi
Keterampilan Dasar Pembelajaran IPA yang berbasis TIK yang aplikatif dan
realistik, untuk lebih memudahkan tercapainya keberhasilan proses
pembelajaran IPA dengan paradigma baru tersebut.
B. Tujuan
Tujuan penulisan makalah Pembelajaran IPA ini untuk menghasilkan suatu
bahan ajar kepada siswa yang mengikuti teknologi komputer seiring dengan
perkembangan jaman..
C. Ruang Lingkup
Keterampilan dasar IPA ini oleh penulis ini di terapkan pada sekolah kejuruan
yang merupakan basis dari praktek pendidikan yang menuntut skill dan
keterampilan pada praktek IPA yang digabaung dengan pemakaian teknologi
Komputer.
BAB III
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
BIDANG STUDI IPA
Keterampilan Dasar Mengajar I, Keterampilan Dasar Mengajar II,
Keterampilan Dasar Mengajar III merupakan keterampilan dasar mengajar yang
perlu dimiliki oleh guru dari semua bidang studi. Jika dipertimbangkan bahwa
bidang-bidang studi yang ber-macam-macam mempunyai ciri-ciri pengajaran
yang khas, keterampilan mengajar untuk bidang-bidang studi khusus perlu
dikembangkan. Perkembangan dunia pendidikan menggunakan program
Komputer saat ini menyebabkan kekhasan ciri pengajaran dari masing-masing
studi makin tampak, dan perbedaannya dengan pengajaran bidang studi lain
makin nyata.
A. Hakekat Pengajaran Sains dengan menggunakan TIK
Pemahaman orang terhadap hakekat sains, hakekat belajar dan
pembelajaran dengan mengunakan TIK yang semakin luas membawa banyak
perubahan dalam dunia pembelajaran sains. Pemahaman terhadap sains
dengan mengunakan TIK telah berkembang dari pemahaman bahwa sains
sebagai produk produk sains (a body of knowledge) menjadi: sains sebagai cara
berpikir dan bertindak (Science as a way of thinking and acting), sains sebagai
keterampilan proses sains (Science is process science skills), sains sebagai
proses penyelidikan ilmiah (Science as a way of investigating). Perubahan
pemahaman terhadap hakekat sains tersebut, secara konseptual, pandangan
orang terhadap pendidikan sains semakin mengarah pada makna yang hakiki
dari belajar dan pembelajaran sains. Makna hakiki dari belajar dan pembelajaran
sains adalah pendidikan sains lebih diartikan sebagai pembentukan kompetensi
anak didik melalui peningkatan motivasi dan aktivitas diri siswa (competencebased
learning) daripada pembekalan pengetahuan melalui transfer
pengetahuan dari guru ke siswa (knowledge-based learning). Sebagai contoh,
digunakannya pendekatan keterampilan proses sains dalam kurikulum 1984 dan
1994 di SD, SLTP dan SMU di Indonesia menandakan bahwa pendidikan di
sekolah-sekolah tersebut menekankan terbentuknya keterampilan proses sains
pada diri siswa daripada pemberian bekal pengetahuan keilmuan melalui
konsep-konsep yang diajarkan oleh guru. Lebih dari itu, jika pada akhir-akhir ini
para ahli pendidikan sains mengembangkan pendekatan-pendekatan baru
(misalnya pendekatan konstruktivisme dan pendekatan STS) maka mereka
menganjurkan agar dalam pendidikan sains para siswa lebih banyak diberi
kesempatan belajar dalam lingkungan yang memberdayakannya untuk
membangun sendiri konsep-konsep sains selaras dengan taraf perkembangan
dan kebutuhannya, sesuai dengan latar belakang kondisi masyarakat dan
lingkungan hidupnya.
Kalau memperhatikan kecenderungan para ahli pendidikan sains untuk
menganjurkan digunakannya pendekatan-pendekatan pembelajaran yang
mendorong terbentuknya lingkungan belajar konstruktivisme, pembelajaran sains
di sekolah tampaknya perlu menggunakan metode-metode pembelajaran yang
dapat mengaktifkan siswa untuk membangun pemahamannya tentang alam
semesta dan lingkungan sekitar dengan menggunakan keterampilan proses
sains. Metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran
sains yang bersifat konstruktivisme terutama adalah metode eksperimen, metode
demonstrasi, metode karya wisata, dan metode proyek. Namun, metode-metode
tersebut menjadi lebih efektif kalau disertai dengan metode-metode yang lain,
misalnya: metode diskusi, metode simulasi.
Perkembangan tersebut perlu diikuti dengan pembentukan atau
peningkatan keterampilan mengajar guru dalam menerapkan metode-metode
pembelajaran tersebut di atas. Keterampilan dasar mengajar untuk pembelajaran
dengan metode-metode khusus bidang studi sains (ilmu pengetahuan alam)
akan meningkatkan intensitas pembelajaran komputer , mungkin bukan hanya
kompetensi dibidang sains, melainkan juga kompetensi di berbagai aspek
kehidupan manusia.
B. Keterampilan Mengajar Demonstrasi
1. Prinsip-prinsip Mengajar dengan Demonstrasi yang menggunakan TIK
Demonstrasi merupakan suatu metode mengajar yang sering digunakan
dalam pembelajaran sains. Demonstrasi dengan menggunakan Komputer untuk
memperagakan:
1. cara menggunakan alat, misalnya: cara menggunakan stetoskop.
2. prinsip dan prosedur kerja suatu alat, misalnya: prinsip kerja mesin pengolah
tebu menjadi gula.
3. prosedur pelaksanaan percobaan/eksperimen, misalnya: prosedur percobaan
untuk menguji adanya karbohidrat dalam tepung.
4. fenomena alam dalam rangka pemahaman suatu konsep atau prinsip sains,
misalnya: fenomena tentang nyala dua bola lampu listrik yang dipasang
secara seri atau paralel.
5. merangsang siswa untuk menemukan masalah dan membimbing siswa untuk
memecahkan masalah.
Dalam pembelajaran sains yang mnebggunakan TIK , demonstrasi dapat
memberikan fasilitas kepada siswa untuk meningkatkan keterampilan proses
sains, dan mealkukan inkuari ilmiah, antara lain:
1. meningkatkan keterampilan mengamati, dan rasa ingin tahu,
2. memberi inspirasi untuk meningkatkan keterampilan memprediksi, inferensi,
dan komunikasi.
3. meningkatkan kejelian terhadap adanya masalah.
4. memberi arah untuk menemukan atau menyusun hipotesis.
5. memberi inspirasi untuk merancang investigasi.
Demonstrasi dengan mengunakan komputer meliputi kegiatan
memamerkan dan menjelaskan (pada pihak guru), mengamati dan mereplikasi
(pada pihak siswa). Demonstrasi menjadikan bahan ajar lebih konkret dan lebih
nyata bagi siswa, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menyaksikan atau mengalami kejadian atau keterampilan nyata sambil
memperhatikan penjelasan.
Demonstrasi dapat digunakan sebagai metode pembelajaran yang berdiri
sendiri dalam suatu proses belajar mengajar, atau dapat digunakan bersamasama
dengan metode lain dalam suatu kombinasi multimetode. Penerapan
demonstrasi sebagai metode yang berdiri sendiri dalam suatu proses belajar
mengajar dapat dijalankan dengan mengikuti prosedur yang diusulkan oleh Joice
and Well dalam Louisell (1992). Ia membagi prosedur demonstrasi menjadi
tahap.
1. Pembukaan.
2. Menyajikan pengetahuan prasyarat atau rasional.
3. Menampilkan model penampilan dengan benar. Tahap ini merupakan tahap
pelaksanaan demonstrasi, dan pada tahap ini guru dituntut untuk melakukan
tiga hal:
a. Mempelajari dan menguasai konsep dan keterampilan yang akan
didemonstra-sikan,
b. Memecah-mecah konsep atau keterampilan menjadi komponenkomponen
lebih kecil dan mengaturnya dalam urutan belajar yang sesuai,
c. Menjalankan langkah-langkah demonstrasi tahap demi tahap (untuk ini
perlu dibuat persiapan tertulis).
4. Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih dalam kondisi terkontrol.
5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mentransfer pengetahuan dan
pengalaman-nya ke situasi yang kompleks.
Jika dipadukan dengan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan
awal, inti dan penutup, tahap-tahap demonstrasi itu dapat diuraikan sebagai
berikut.
Tahap-Tahap Demonstrasi dengan menggunakan TIK (Joice and Well, dalam
Louisell, 1992)
Tahap
pembelajaran
Tahap Demonstrasi Keterangan
Pembukaan. Membangkitkan motivasi
kepa-da siswa.
Awal
Menyajikan pengetahuan
prasyarat atau rasional. Lewat
media pembelajaran Komputer
Menggali pengetahuan awal
sis-wa, bisa kemampuan
prasyarat atau pengetahuan
awal tentang konsep yang
dipelajari.
Pelaksanaan demonstrasi. Penyajian, penjelasan
konsep.
Inti
Memberi kesempatan pada
siswa untuk berlatih dalam
kondisi terkon-trol.
Kegiatan latihan siswa untuk
merefleksikan materi yang
telah didemonstrasikan:
mencatat da-ta yang ada di
Komputer , menganalisis
data, dan pena-rikan
kesimpulan. Bila diperlu-kan
siswa diberi kesempatan
untuk mengulang
demonstrasi.
Penutup Memberi kesempatan kepada
siswa untuk mentransfer
pengetahuan yang di dapat dari
Komputer dan pengalamannya
ke situasi yang kompleks.
Kegiatan pemantapan: tugas
ru-mah, proyek, dll.
Jika demonstrasi digunakan dalam proses pembelajaran yang
menggunakan Program komputer sebagai kombinasi metode di antara metode
yang lain, pelaksanaan demonstrasi dapat ditempatkan pada awal, inti atau
penutup pelajaran. Jika ditempatkan pada awal pelajaran, demonstrasi
dimaksudkan untuk membangkitkan motivasi belajar, memberi kesempatan
kepada siswa untuk mengeksplorasi fenomena dan masalah, serta menggali
pengetahuan awal siswa tentang konsep yang sedang dipelajari. Pada inti
pelajaran demonstrasi bermanfaat untuk menunjukkan fakta, atau menjelaskan
konsep atau prinsip. Pada akhir pelajaran demonstrasi dapat digunakan untuk
menilai hasil belajar siswa; penilaian ini merupakan penilaian terhadap
pengalaman langsung siswa, dan cocok untuk menilai kemampuan keterampilan
proses sains. Dalam pelaksanaannya, selama atau sesudah demonstrasi siswa
diberi pertanyaan tentang hal-hal yang tampak atau mungkin tampak.
2. Keterampilan Khusus Berdemonstrasi
Secara umum demosntrasi dalam proses pembelajaran dimaksudkan
untuk meningkatkan keefektifan tercapainya tujuan pengajaran. Demonstrasi
dapat dilaksanakan sebagai satu metode dalam satu proses pembelajaran
menggunakan Komputer , atau sebagai salah satu metode dalam suatu perose
pembelajaran. Demonstrasi dapat disajikan di awal pelajaran, dengan tujuan
untuk menyajikan fenomena, menggali pengetahuan awal siswa, dan memotivasi
belajar siswa. Maka dari itu, guru perlu menguasai kecakapan dan keterampilan
berdemon-strasi.
a. Prademonstrasi
1) Memahami tujuan demonstrasi. Dalam pembelajaran konstruktivisme,
tujuan khusus demonstrasi ada dua macam: (1) demonstrasi pada awal
pelajaran bertujuan untuk menampilkan fenomena yang menimbulkan konflik
kognitif, (2) demonstrasi pada pengajaran inti bertujuan untuk menyajikan fakta
atau data, untuk memecahkan masalah, (3) demonstrasi pada akhir pelajaran
untuk memberi gambaran mengenai aplikasi konsep.
2) Mengenali fakta atau informasi esensial dari konsep yang akan
didemonstrasikan. Fakta atau informasi esensial inilah yang perlu dijadikan fokus
amatan oleh siswa ketika demonstrasikan.
3) Merancang bahan atau kegiatan untuk demonstrasi. Yang dimaksud disini
adalah menerjemahkan informasi verbal pada konsep materi pelajaran menjadi
informasi yang dapat divisualisasikan dalam demonstrasi.
4) Merancang prosedur pelaksanaan demonstrasi. Lihat Tabel 5.1.
Disamping prosedur sebagaimana dikemukakan pada Tabel 5.1, hal yang perlu
dirancang adalah urut-urutan penyajian demonstrasi jika informasi yang akan
ditampilkan merupakan beberapa seri informasi. Urutan seri informasi perlu
dirancang.
b. Pelaksanaan Demonstrasi
1) Menjalankan demonstrasi dengan lancar dan benar, agar informasi yang
dimunculkan benar sesuai dengan yang direncanakan.
2) Menampilkan fenomena secara atraktif, khususnya fenomena-fenomena yang
diharapkan dapat menimbulkan konflik kognitif pada siswa. Lewat program
komputer Demonstrator dapat melakukan trik-trik untuk mengkonflikkan pikiran
siswa dengan fenoman yang teramati. Ketika pejetan dilepaskan pelan-pelan
sambil menurunkan botol ke meja, akan tampak seolah-olah turunnya tabung
reaksi karena botol diturunkan. Pada hal, tabung reaksi tenggelam ketika botol
dipejet karena volume air yang masuk ke dalam tabung reaksi bertambah,
sebaliknya volume air di dalam tabung reaksi berkurang ketika pejetan
dilepaskan. Itulah yang disebut konflik kognitif. Atraksi seperti itu sangat menarik,
layaknya bermain sulap.
3) Penampilan demonstrasi dapat diulang, untuk memperbanyak sampel
pengamatan.
4) Mengatur posisi peralatan, sampai demonstrasi dapat diamati dengan
jelas oleh semua anggota kelas.
c. Pasca Demonstrasi
1) Kesenyapan. Setelah demonstrasi berakhir, guru diam beberapa saat
untuk menunggu respons dari siswa, mungkin (sampai) ada siswa yang
mengajukan masalah dari fenomeda yang diamati. Jika respons tidak muncul,
masalah dapat diajukan sendiri oleh guru.
2) Berdiskusi atau melakukan demonstrasi lanjutan, untuk mengajak siswa
mengajak siswa menemukan jawaban atas masalah yang dikemukakan.
C. Keterampilan Mengajar Eksperimen Dengan Menggunakan
TIK
1. Prinsip-Prinsip Pengajaran Eksperimen
Eksperimen merupakan bagian sangat penting dalam pembelajaran
sains, kerena hal eksperimen itulah yang membedakan sains yang mengunakan
Komputer dengan mata pelajaran lain. Metode eksperimen dapat digunakan
untuk melatih siswa dalam melakukan studi alamiah yang menggunakan
langkah-langkah metode alamiah, yang meliputi: observasi, penemuan masalah,
penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Karena
dalam pelaksanaan eksperimen itu banyak keterampilan proses yang perlu
digunakan, maka metode ini merupakan strategi yang penting untuk
membelajarkan keterampilan proses kepada siswa, terutama keterampilan
proses terintegrasi.
Metode eksperimen sangat khas untuk membelajarkan prinsip atau
generalisasi hubungan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Sehubungan dengan penjelasan ini, metode eksperimen dapat dibagi menjadi
eksperimen sederhana, eksperimen terkontrol, dan eksperimen berujung-terbuka
(open-ended experimen) (Thurber dan Collete, 1968). Dengan adanya
pembagian ini, guru tidak perlu khawatir bahwa pelaksanaan eksperimen di kelas
sains yang mnenggunakan TIK akan memakan waktu banyak, pelaksanaannya
rumit dana adanya kesulitan yang lain.
a. Eksperimen sederhana
Banyak masalah IPA yang dapat dipecahkan dengan eksperimen
sederhana, sehingga tidak memerlukan tahap-tahap kerja yang terpisah untuk
menyelesaikannya. Langkah dari eksperimen sederhana itu adalah: 1)
pengajuan masalah, 2) pelaksanaan percobaan untuk pengamatan, dan 3)
pengambilan kesimpulan. Dalam eksperimen sederhana ini tidak perlu dilakukan
pengontrolan terhadap variabel-variabel bebas yang tidak dipelajari, karena
pengaruhnya terhadap variabel terikat dapat diabaikan atau memang tidak ada
variabel lain yang berpengaruh kecuali variabel yang sedang dipelajari.
Sebagai contoh, masalah yang akan dipecahkan adalah: “Apakah tepung
beras mengandung amilum?” Masalah itu cukup dipecahkan dengan percobaan,
yang dilakukan dengan meneteskan larutan YKY (yodium) pada tepung beras,
kemudian mengamati bahwa zat tersebut berubah warna biru. Untuk mengambil
kesimpulan, siswa cikup diminta untuk melakukan 2-3 kali percobaan, untuk
mengambil kesimpulan bahwa tepung beras mengandung amilum berdasarkan
perubahan warna yodium menjadi biru.
b. Eksperimen terkontrol
Hubungan antara suatu variabel bebas dan variabel terikat dalam
fenomena-fenomena alam banyak yang tidak dapat diamati karena adanya
variabel lain yang berpengaruh terhadapa variabel terikat yang diamati.
Misalnya, pada suatu tanaman pot baru yang tanahnya diberi urea,
pertumbuhannya subur; tetapi tidak dapat disimpulkan begitu saja bahwa yang
menyebabkan subur adalah zat urea, karena orang berpikir bahwa faktor lain
juga dapat berpengaruh. Hubungan antara variabel-variabel seperti itu dapat
diajarkan kepada siswa dengan metode eksperimen terkontrol. Dalam metode ini
dibuat eksperimen dengan menggunakan dua kelompok tanaman pot yang
medium tanahnya sama, tetapi pada satu kelompok tanaman tanahnya diberi
urea sementara kelompok tanaman yang lain tidak diberi urea.
Dalam pelaksanaan metode eksperimen terkontrol, langkah-langkah yang
perlu dilaksanakan adalah: 1) pengajuan masalah, 2) pengajuan hipotesis, 3)
pengontrolan variabel (membuat perlakuan variabel bebas dan mengendalikan
varibel terkontrol), 4) pelaksanaan eksperimen, 5) pengolahan data, dan 7)
pengambilan kesimpulan. Dalam metode eksperimen terkontrol, kesimpulan
yang dibuat bersifat tertutup, artinya kesimpulan itu merupakan jawaban yang
pasti (tidak perlu dipertanyakan kebenarannya, atau tidak mengundang
munculnya masalah baru).
Contohnya sebagai berikut:
Masalah: “Mengapa tanaman padi di sawah ada yang daunnya lebih hijau dan lebih
panjang dari yang lain?
Hipotesis: “Tanaman padi yang hijau dipupuk dengan urea.”
Mengendalikan variabel: membuat dua kelompok perlakuan, satu kelompok dipupuk
urea, kelompok yang lain tidak dipupuk urea.
Pelaksanaan eksperimen: 1) melakukan penanaman padi dalam beberapa pot dengan
medium tanah yang sama, 2) pot-pot tanaman padi dibagi menjadi dua
kelompok, kelompok I dipupuk urea sedang kelompok II tidak dipupuk urea.
Pengamatan/Pengumpulan data: mengamati warna dan mengukur panjang daun
tanaman padi selama waktu tertentu.
Pengolahan data: 1) menghitung rata-rata data tinggi batang padi pada tiap perlakuan,
2) membandingkan rata-rata tinggi batang padi antara kelompok I dan
kelompok II.
Pengambilan kesimpulan: Menyimpulkan hasil pengolahan data tentang hubungan
antara urea dengan tinggi batang dan perubahan warna hijau pada daun.
Bab III
Penutup
Makalah dengan juduk Materi KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK” akan lebih mudah dimengerti
dan lebih berguna sebagai bekal bagi siswa khususnya siswa SMK, apabila
pembelajarannya lebih diorientasikan pada Realitas dan Aplikasi dalam
kehidupan sehari-hari. Di samping itu pembelajarannya juga diarahkan dengan
tahapan-tahapan yang sistematis. Oleh karena itu, pembelajaran yang ada di
dalam modul ini masih perlu dikembangkan lagi khususnya dari segi orientasi
tersebut, agar dapat meningkatkan kemampuan Belajar IPA bagi siswa SMK.
Daftar Pustaka
1. Hadley. Linear Programming. 1962. Addison – Wesley Publishing
Company, AS
3. Soekartawi, Dr. Linear Programming: Teori dan Aplikasi, khususnya di
bidang pertanian. 1992. Rajawali.
4. Soewardi, Eddy, Drs. Linear Programming. 1984. Sinar Baru
5. Yamit, Zulian. Linear Programming. 1991. Bagian Penerbitan Fakultas
Ekonomi Universitas Islam
6. Supranto, J, M.A. Linear Programming. 1983. Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar