Selasa, 22 Juni 2010

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”

DI SUSUN OLEH :

IRWAN JAYA ,S.Pd

NIP 510 156 631

UNIT KERJA

SMKN 1 PAMEKASAN

PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SMK NEGERI 1 PAMEKASAN

Jalan Pintu Gerbang 157 Telp. (0324) 322355 Fax. 328409

PAMEKASAN 69316

KATA PENGANTAR

Dengan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa kami panjatkan karena berkat

dan petunjuknya kami dapat menyusun Makalah dengan judul “.KETERAMPILAN

DASAR MENGAJAR KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”

Makalah ini merupakan bahan kajian mengenai suatu sistem untuk

menghasilkan informasi berkenaan dengan tersebut dapat digunakan dalam

rangka Pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum Tiingkat Satuan

pendidikan pada setiap sekolah..

Dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dewasa ini di perlukan

beberapa metode dalam pembelajaran Bidang studi IPA yang tidak terlepas

dengan penguasaan atau media yang menggunakan Teknologi dan Informatika..

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu penyusunan makalah, semoga dapat meningkatkan hasil proses

belajar-mengajar yang maksimal dan upaya peningkatan mutu sumber daya

manusia melalui sekolah menengah kejuruan akan benar-benar mencapai

sasaran.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih ada

kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun

sangat kami harapkan untuk memperbaiki penerbitan berikutnya.

Hormat kami

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

Bab I Pendahuluan 1

A. Latar Belakang 1

B. Tujuan 1

C. Ruang Lingkup 1

Bab II KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR BIDANG STUDI IPA 4

A. Hakekat Pengajaran Sains dengan menggunakan TIK 4

B. Keterampilan Mengajar Demonstrasi 7

C. Keterampilan Mengajar Eksperimen Dengan Menggunakan TIK 11

Bab III Penutup 15

Daftar Pustaka 16

Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Saat ini sedang dikembangkan paradigma baru kurikulum pendidikan dasar

dan menengah dimana kini guru diharapkan hanya sebagai fasilitator dalam

proses belajar mengajar, dengan pembelajaran yang lebih realistik dan aplikaif

khususnya bidang pelajaran IPA, Oleh karena itu perlu dikermbangkan materi

Keterampilan Dasar Pembelajaran IPA yang berbasis TIK yang aplikatif dan

realistik, untuk lebih memudahkan tercapainya keberhasilan proses

pembelajaran IPA dengan paradigma baru tersebut.

B. Tujuan

Tujuan penulisan makalah Pembelajaran IPA ini untuk menghasilkan suatu

bahan ajar kepada siswa yang mengikuti teknologi komputer seiring dengan

perkembangan jaman..

C. Ruang Lingkup

Keterampilan dasar IPA ini oleh penulis ini di terapkan pada sekolah kejuruan

yang merupakan basis dari praktek pendidikan yang menuntut skill dan

keterampilan pada praktek IPA yang digabaung dengan pemakaian teknologi

Komputer.

BAB III

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

BIDANG STUDI IPA

Keterampilan Dasar Mengajar I, Keterampilan Dasar Mengajar II,

Keterampilan Dasar Mengajar III merupakan keterampilan dasar mengajar yang

perlu dimiliki oleh guru dari semua bidang studi. Jika dipertimbangkan bahwa

bidang-bidang studi yang ber-macam-macam mempunyai ciri-ciri pengajaran

yang khas, keterampilan mengajar untuk bidang-bidang studi khusus perlu

dikembangkan. Perkembangan dunia pendidikan menggunakan program

Komputer saat ini menyebabkan kekhasan ciri pengajaran dari masing-masing

studi makin tampak, dan perbedaannya dengan pengajaran bidang studi lain

makin nyata.

A. Hakekat Pengajaran Sains dengan menggunakan TIK

Pemahaman orang terhadap hakekat sains, hakekat belajar dan

pembelajaran dengan mengunakan TIK yang semakin luas membawa banyak

perubahan dalam dunia pembelajaran sains. Pemahaman terhadap sains

dengan mengunakan TIK telah berkembang dari pemahaman bahwa sains

sebagai produk produk sains (a body of knowledge) menjadi: sains sebagai cara

berpikir dan bertindak (Science as a way of thinking and acting), sains sebagai

keterampilan proses sains (Science is process science skills), sains sebagai

proses penyelidikan ilmiah (Science as a way of investigating). Perubahan

pemahaman terhadap hakekat sains tersebut, secara konseptual, pandangan

orang terhadap pendidikan sains semakin mengarah pada makna yang hakiki

dari belajar dan pembelajaran sains. Makna hakiki dari belajar dan pembelajaran

sains adalah pendidikan sains lebih diartikan sebagai pembentukan kompetensi

anak didik melalui peningkatan motivasi dan aktivitas diri siswa (competencebased

learning) daripada pembekalan pengetahuan melalui transfer

pengetahuan dari guru ke siswa (knowledge-based learning). Sebagai contoh,

digunakannya pendekatan keterampilan proses sains dalam kurikulum 1984 dan

1994 di SD, SLTP dan SMU di Indonesia menandakan bahwa pendidikan di

sekolah-sekolah tersebut menekankan terbentuknya keterampilan proses sains

pada diri siswa daripada pemberian bekal pengetahuan keilmuan melalui

konsep-konsep yang diajarkan oleh guru. Lebih dari itu, jika pada akhir-akhir ini

para ahli pendidikan sains mengembangkan pendekatan-pendekatan baru

(misalnya pendekatan konstruktivisme dan pendekatan STS) maka mereka

menganjurkan agar dalam pendidikan sains para siswa lebih banyak diberi

kesempatan belajar dalam lingkungan yang memberdayakannya untuk

membangun sendiri konsep-konsep sains selaras dengan taraf perkembangan

dan kebutuhannya, sesuai dengan latar belakang kondisi masyarakat dan

lingkungan hidupnya.

Kalau memperhatikan kecenderungan para ahli pendidikan sains untuk

menganjurkan digunakannya pendekatan-pendekatan pembelajaran yang

mendorong terbentuknya lingkungan belajar konstruktivisme, pembelajaran sains

di sekolah tampaknya perlu menggunakan metode-metode pembelajaran yang

dapat mengaktifkan siswa untuk membangun pemahamannya tentang alam

semesta dan lingkungan sekitar dengan menggunakan keterampilan proses

sains. Metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran

sains yang bersifat konstruktivisme terutama adalah metode eksperimen, metode

demonstrasi, metode karya wisata, dan metode proyek. Namun, metode-metode

tersebut menjadi lebih efektif kalau disertai dengan metode-metode yang lain,

misalnya: metode diskusi, metode simulasi.

Perkembangan tersebut perlu diikuti dengan pembentukan atau

peningkatan keterampilan mengajar guru dalam menerapkan metode-metode

pembelajaran tersebut di atas. Keterampilan dasar mengajar untuk pembelajaran

dengan metode-metode khusus bidang studi sains (ilmu pengetahuan alam)

akan meningkatkan intensitas pembelajaran komputer , mungkin bukan hanya

kompetensi dibidang sains, melainkan juga kompetensi di berbagai aspek

kehidupan manusia.

B. Keterampilan Mengajar Demonstrasi

1. Prinsip-prinsip Mengajar dengan Demonstrasi yang menggunakan TIK

Demonstrasi merupakan suatu metode mengajar yang sering digunakan

dalam pembelajaran sains. Demonstrasi dengan menggunakan Komputer untuk

memperagakan:

1. cara menggunakan alat, misalnya: cara menggunakan stetoskop.

2. prinsip dan prosedur kerja suatu alat, misalnya: prinsip kerja mesin pengolah

tebu menjadi gula.

3. prosedur pelaksanaan percobaan/eksperimen, misalnya: prosedur percobaan

untuk menguji adanya karbohidrat dalam tepung.

4. fenomena alam dalam rangka pemahaman suatu konsep atau prinsip sains,

misalnya: fenomena tentang nyala dua bola lampu listrik yang dipasang

secara seri atau paralel.

5. merangsang siswa untuk menemukan masalah dan membimbing siswa untuk

memecahkan masalah.

Dalam pembelajaran sains yang mnebggunakan TIK , demonstrasi dapat

memberikan fasilitas kepada siswa untuk meningkatkan keterampilan proses

sains, dan mealkukan inkuari ilmiah, antara lain:

1. meningkatkan keterampilan mengamati, dan rasa ingin tahu,

2. memberi inspirasi untuk meningkatkan keterampilan memprediksi, inferensi,

dan komunikasi.

3. meningkatkan kejelian terhadap adanya masalah.

4. memberi arah untuk menemukan atau menyusun hipotesis.

5. memberi inspirasi untuk merancang investigasi.

Demonstrasi dengan mengunakan komputer meliputi kegiatan

memamerkan dan menjelaskan (pada pihak guru), mengamati dan mereplikasi

(pada pihak siswa). Demonstrasi menjadikan bahan ajar lebih konkret dan lebih

nyata bagi siswa, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk

menyaksikan atau mengalami kejadian atau keterampilan nyata sambil

memperhatikan penjelasan.

Demonstrasi dapat digunakan sebagai metode pembelajaran yang berdiri

sendiri dalam suatu proses belajar mengajar, atau dapat digunakan bersamasama

dengan metode lain dalam suatu kombinasi multimetode. Penerapan

demonstrasi sebagai metode yang berdiri sendiri dalam suatu proses belajar

mengajar dapat dijalankan dengan mengikuti prosedur yang diusulkan oleh Joice

and Well dalam Louisell (1992). Ia membagi prosedur demonstrasi menjadi lima

tahap.

1. Pembukaan.

2. Menyajikan pengetahuan prasyarat atau rasional.

3. Menampilkan model penampilan dengan benar. Tahap ini merupakan tahap

pelaksanaan demonstrasi, dan pada tahap ini guru dituntut untuk melakukan

tiga hal:

a. Mempelajari dan menguasai konsep dan keterampilan yang akan

didemonstra-sikan,

b. Memecah-mecah konsep atau keterampilan menjadi komponenkomponen

lebih kecil dan mengaturnya dalam urutan belajar yang sesuai,

c. Menjalankan langkah-langkah demonstrasi tahap demi tahap (untuk ini

perlu dibuat persiapan tertulis).

4. Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih dalam kondisi terkontrol.

5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mentransfer pengetahuan dan

pengalaman-nya ke situasi yang kompleks.

Jika dipadukan dengan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan

awal, inti dan penutup, tahap-tahap demonstrasi itu dapat diuraikan sebagai

berikut.

Tahap-Tahap Demonstrasi dengan menggunakan TIK (Joice and Well, dalam

Louisell, 1992)

Tahap

pembelajaran

Tahap Demonstrasi Keterangan

Pembukaan. Membangkitkan motivasi

kepa-da siswa.

Awal

Menyajikan pengetahuan

prasyarat atau rasional. Lewat

media pembelajaran Komputer

Menggali pengetahuan awal

sis-wa, bisa kemampuan

prasyarat atau pengetahuan

awal tentang konsep yang

dipelajari.

Pelaksanaan demonstrasi. Penyajian, penjelasan

konsep.

Inti

Memberi kesempatan pada

siswa untuk berlatih dalam

kondisi terkon-trol.

Kegiatan latihan siswa untuk

merefleksikan materi yang

telah didemonstrasikan:

mencatat da-ta yang ada di

Komputer , menganalisis

data, dan pena-rikan

kesimpulan. Bila diperlu-kan

siswa diberi kesempatan

untuk mengulang

demonstrasi.

Penutup Memberi kesempatan kepada

siswa untuk mentransfer

pengetahuan yang di dapat dari

Komputer dan pengalamannya

ke situasi yang kompleks.

Kegiatan pemantapan: tugas

ru-mah, proyek, dll.

Jika demonstrasi digunakan dalam proses pembelajaran yang

menggunakan Program komputer sebagai kombinasi metode di antara metode

yang lain, pelaksanaan demonstrasi dapat ditempatkan pada awal, inti atau

penutup pelajaran. Jika ditempatkan pada awal pelajaran, demonstrasi

dimaksudkan untuk membangkitkan motivasi belajar, memberi kesempatan

kepada siswa untuk mengeksplorasi fenomena dan masalah, serta menggali

pengetahuan awal siswa tentang konsep yang sedang dipelajari. Pada inti

pelajaran demonstrasi bermanfaat untuk menunjukkan fakta, atau menjelaskan

konsep atau prinsip. Pada akhir pelajaran demonstrasi dapat digunakan untuk

menilai hasil belajar siswa; penilaian ini merupakan penilaian terhadap

pengalaman langsung siswa, dan cocok untuk menilai kemampuan keterampilan

proses sains. Dalam pelaksanaannya, selama atau sesudah demonstrasi siswa

diberi pertanyaan tentang hal-hal yang tampak atau mungkin tampak.

2. Keterampilan Khusus Berdemonstrasi

Secara umum demosntrasi dalam proses pembelajaran dimaksudkan

untuk meningkatkan keefektifan tercapainya tujuan pengajaran. Demonstrasi

dapat dilaksanakan sebagai satu metode dalam satu proses pembelajaran

menggunakan Komputer , atau sebagai salah satu metode dalam suatu perose

pembelajaran. Demonstrasi dapat disajikan di awal pelajaran, dengan tujuan

untuk menyajikan fenomena, menggali pengetahuan awal siswa, dan memotivasi

belajar siswa. Maka dari itu, guru perlu menguasai kecakapan dan keterampilan

berdemon-strasi.

a. Prademonstrasi

1) Memahami tujuan demonstrasi. Dalam pembelajaran konstruktivisme,

tujuan khusus demonstrasi ada dua macam: (1) demonstrasi pada awal

pelajaran bertujuan untuk menampilkan fenomena yang menimbulkan konflik

kognitif, (2) demonstrasi pada pengajaran inti bertujuan untuk menyajikan fakta

atau data, untuk memecahkan masalah, (3) demonstrasi pada akhir pelajaran

untuk memberi gambaran mengenai aplikasi konsep.

2) Mengenali fakta atau informasi esensial dari konsep yang akan

didemonstrasikan. Fakta atau informasi esensial inilah yang perlu dijadikan fokus

amatan oleh siswa ketika demonstrasikan.

3) Merancang bahan atau kegiatan untuk demonstrasi. Yang dimaksud disini

adalah menerjemahkan informasi verbal pada konsep materi pelajaran menjadi

informasi yang dapat divisualisasikan dalam demonstrasi.

4) Merancang prosedur pelaksanaan demonstrasi. Lihat Tabel 5.1.

Disamping prosedur sebagaimana dikemukakan pada Tabel 5.1, hal yang perlu

dirancang adalah urut-urutan penyajian demonstrasi jika informasi yang akan

ditampilkan merupakan beberapa seri informasi. Urutan seri informasi perlu

dirancang.

b. Pelaksanaan Demonstrasi

1) Menjalankan demonstrasi dengan lancar dan benar, agar informasi yang

dimunculkan benar sesuai dengan yang direncanakan.

2) Menampilkan fenomena secara atraktif, khususnya fenomena-fenomena yang

diharapkan dapat menimbulkan konflik kognitif pada siswa. Lewat program

komputer Demonstrator dapat melakukan trik-trik untuk mengkonflikkan pikiran

siswa dengan fenoman yang teramati. Ketika pejetan dilepaskan pelan-pelan

sambil menurunkan botol ke meja, akan tampak seolah-olah turunnya tabung

reaksi karena botol diturunkan. Pada hal, tabung reaksi tenggelam ketika botol

dipejet karena volume air yang masuk ke dalam tabung reaksi bertambah,

sebaliknya volume air di dalam tabung reaksi berkurang ketika pejetan

dilepaskan. Itulah yang disebut konflik kognitif. Atraksi seperti itu sangat menarik,

layaknya bermain sulap.

3) Penampilan demonstrasi dapat diulang, untuk memperbanyak sampel

pengamatan.

4) Mengatur posisi peralatan, sampai demonstrasi dapat diamati dengan

jelas oleh semua anggota kelas.

c. Pasca Demonstrasi

1) Kesenyapan. Setelah demonstrasi berakhir, guru diam beberapa saat

untuk menunggu respons dari siswa, mungkin (sampai) ada siswa yang

mengajukan masalah dari fenomeda yang diamati. Jika respons tidak muncul,

masalah dapat diajukan sendiri oleh guru.

2) Berdiskusi atau melakukan demonstrasi lanjutan, untuk mengajak siswa

mengajak siswa menemukan jawaban atas masalah yang dikemukakan.

C. Keterampilan Mengajar Eksperimen Dengan Menggunakan

TIK

1. Prinsip-Prinsip Pengajaran Eksperimen

Eksperimen merupakan bagian sangat penting dalam pembelajaran

sains, kerena hal eksperimen itulah yang membedakan sains yang mengunakan

Komputer dengan mata pelajaran lain. Metode eksperimen dapat digunakan

untuk melatih siswa dalam melakukan studi alamiah yang menggunakan

langkah-langkah metode alamiah, yang meliputi: observasi, penemuan masalah,

penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Karena

dalam pelaksanaan eksperimen itu banyak keterampilan proses yang perlu

digunakan, maka metode ini merupakan strategi yang penting untuk

membelajarkan keterampilan proses kepada siswa, terutama keterampilan

proses terintegrasi.

Metode eksperimen sangat khas untuk membelajarkan prinsip atau

generalisasi hubungan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

Sehubungan dengan penjelasan ini, metode eksperimen dapat dibagi menjadi

eksperimen sederhana, eksperimen terkontrol, dan eksperimen berujung-terbuka

(open-ended experimen) (Thurber dan Collete, 1968). Dengan adanya

pembagian ini, guru tidak perlu khawatir bahwa pelaksanaan eksperimen di kelas

sains yang mnenggunakan TIK akan memakan waktu banyak, pelaksanaannya

rumit dana adanya kesulitan yang lain.

a. Eksperimen sederhana

Banyak masalah IPA yang dapat dipecahkan dengan eksperimen

sederhana, sehingga tidak memerlukan tahap-tahap kerja yang terpisah untuk

menyelesaikannya. Langkah dari eksperimen sederhana itu adalah: 1)

pengajuan masalah, 2) pelaksanaan percobaan untuk pengamatan, dan 3)

pengambilan kesimpulan. Dalam eksperimen sederhana ini tidak perlu dilakukan

pengontrolan terhadap variabel-variabel bebas yang tidak dipelajari, karena

pengaruhnya terhadap variabel terikat dapat diabaikan atau memang tidak ada

variabel lain yang berpengaruh kecuali variabel yang sedang dipelajari.

Sebagai contoh, masalah yang akan dipecahkan adalah: “Apakah tepung

beras mengandung amilum?” Masalah itu cukup dipecahkan dengan percobaan,

yang dilakukan dengan meneteskan larutan YKY (yodium) pada tepung beras,

kemudian mengamati bahwa zat tersebut berubah warna biru. Untuk mengambil

kesimpulan, siswa cikup diminta untuk melakukan 2-3 kali percobaan, untuk

mengambil kesimpulan bahwa tepung beras mengandung amilum berdasarkan

perubahan warna yodium menjadi biru.

b. Eksperimen terkontrol

Hubungan antara suatu variabel bebas dan variabel terikat dalam

fenomena-fenomena alam banyak yang tidak dapat diamati karena adanya

variabel lain yang berpengaruh terhadapa variabel terikat yang diamati.

Misalnya, pada suatu tanaman pot baru yang tanahnya diberi urea,

pertumbuhannya subur; tetapi tidak dapat disimpulkan begitu saja bahwa yang

menyebabkan subur adalah zat urea, karena orang berpikir bahwa faktor lain

juga dapat berpengaruh. Hubungan antara variabel-variabel seperti itu dapat

diajarkan kepada siswa dengan metode eksperimen terkontrol. Dalam metode ini

dibuat eksperimen dengan menggunakan dua kelompok tanaman pot yang

medium tanahnya sama, tetapi pada satu kelompok tanaman tanahnya diberi

urea sementara kelompok tanaman yang lain tidak diberi urea.

Dalam pelaksanaan metode eksperimen terkontrol, langkah-langkah yang

perlu dilaksanakan adalah: 1) pengajuan masalah, 2) pengajuan hipotesis, 3)

pengontrolan variabel (membuat perlakuan variabel bebas dan mengendalikan

varibel terkontrol), 4) pelaksanaan eksperimen, 5) pengolahan data, dan 7)

pengambilan kesimpulan. Dalam metode eksperimen terkontrol, kesimpulan

yang dibuat bersifat tertutup, artinya kesimpulan itu merupakan jawaban yang

pasti (tidak perlu dipertanyakan kebenarannya, atau tidak mengundang

munculnya masalah baru).

Contohnya sebagai berikut:

Masalah: “Mengapa tanaman padi di sawah ada yang daunnya lebih hijau dan lebih

panjang dari yang lain?

Hipotesis: “Tanaman padi yang hijau dipupuk dengan urea.”

Mengendalikan variabel: membuat dua kelompok perlakuan, satu kelompok dipupuk

urea, kelompok yang lain tidak dipupuk urea.

Pelaksanaan eksperimen: 1) melakukan penanaman padi dalam beberapa pot dengan

medium tanah yang sama, 2) pot-pot tanaman padi dibagi menjadi dua

kelompok, kelompok I dipupuk urea sedang kelompok II tidak dipupuk urea.

Pengamatan/Pengumpulan data: mengamati warna dan mengukur panjang daun

tanaman padi selama waktu tertentu.

Pengolahan data: 1) menghitung rata-rata data tinggi batang padi pada tiap perlakuan,

2) membandingkan rata-rata tinggi batang padi antara kelompok I dan

kelompok II.

Pengambilan kesimpulan: Menyimpulkan hasil pengolahan data tentang hubungan

antara urea dengan tinggi batang dan perubahan warna hijau pada daun.

Bab III

Penutup

Makalah dengan juduk Materi KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK” akan lebih mudah dimengerti

dan lebih berguna sebagai bekal bagi siswa khususnya siswa SMK, apabila

pembelajarannya lebih diorientasikan pada Realitas dan Aplikasi dalam

kehidupan sehari-hari. Di samping itu pembelajarannya juga diarahkan dengan

tahapan-tahapan yang sistematis. Oleh karena itu, pembelajaran yang ada di

dalam modul ini masih perlu dikembangkan lagi khususnya dari segi orientasi

tersebut, agar dapat meningkatkan kemampuan Belajar IPA bagi siswa SMK.

Daftar Pustaka

1. Hadley. Linear Programming. 1962. Addison – Wesley Publishing

Company, AS

3. Soekartawi, Dr. Linear Programming: Teori dan Aplikasi, khususnya di

bidang pertanian. 1992. Rajawali.

4. Soewardi, Eddy, Drs. Linear Programming. 1984. Sinar Baru

5. Yamit, Zulian. Linear Programming. 1991. Bagian Penerbitan Fakultas

Ekonomi Universitas Islam Indonesia

6. Supranto, J, M.A. Linear Programming. 1983. Lembaga Penerbit Fakultas

Ekonomi Universitas Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar