MURNINGSIH
Sabtu, 03 Juli 2010
Namaku Murningsih
Karena mengajar sesungguhnya akan membuat kita semakin memahami suatu Ilmu Pengetahuan dan dapat membagikannya dengan murid-murid kita. Saat ini saya tinggal di Muara Badak Kabupaten Kutai Kerta Negara. Saya saat ini sedang Kuliah di S2 Kependidikan Universitas Mulawarman dengan Jurusan Manajemen Pendidikan Angkatan 2010.
Semoga teman-teman yang membaca perkenalan singkat ini sama-sama semangat dalam membangun pendidikan di daerah masing-masing. semoga semua sukses. amien.
Perlunya pendidikan bagi Guru
Manajemen Pendidikan itu penting
Manajemen yang digunakan masih konvensional, sehingga kurang bisa menjawab tantangan zaman dan terkesan tertinggal dari modernitas. Hal ini mengakibatkan sasaran-sasaran ideal pendidikan yang seharusnya bisa dipenuhi ternyata tidak bisa diwujudkan. Parahnya, terkadang para pengelola pendidikan tidak menyadari akan hal itu,
Manajemen pendidikan merupakan suatu proses untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya pendidikan seperti guru, sarana dan prasarana pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, dsb untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Selasa, 22 Juni 2010
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
dalam Pencapaian Standar Nasional Pendidikan
yang Terkait dengan Pembelajaran Matematika
M. Salman A.N.
Kelompok Keahlian Matematika Kombinatorika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi
Jl. Ganesa 10
email: msalman@math.itb.ac.id
Standar nasional pendidikan
Pendidikan nasional
Negara RI Tahun 1945 tentang Pendidikan dan Kebudayaan. Secara
operasional pelaksanaan pendidikan harus merupakan realisasi UU RI No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Oleh karena itu,
pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan
peningkatan mutu pendidikan nasional di tengah perubahan global. Melalui
pendidikan nasional setiap warga negara
manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
cerdas, produktif, berdaya saing tinggi, dan bermartabat di tengah pergaulan
internasional. Dalam hubungan ini segala upaya perlu dilakukan agar
pelaksanaan pendidikan nasional dapat berhasil sehingga tujuan pendidikan
nasional dapat tercapai.
Dewasa ini terjadi perubahan paradigma pembelajaran dari yang berpusat
pada guru ke yang berpusat pada peserta didik. Pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik menjamin terlaksananya pembelajaran bermakna.
peserta didik didorong membangun sendiri pemahamannya, dan guru
berperan sebagai fasilitator. Guru bukanlah satu-satunya sumber
pengetahuan bagi peserta didik. Sumber pengetahuan tersebut sesungguhnya
demikian banyak dan semuanya berada dalam lingkungan sekitar, sehingga
peserta didik dituntut lebih aktif dan kreatif dalam belajar.
Perubahan paradigma pembelajaran ini menuntut perubahan proses
pembelajaran dan hal lain termasuk yang berkaitan dengan sarana dan
prasarana. Sarana dan prasarana seyogyanya dirancang agar pembelajaran
yang berpusat pada peserta didik dapat terlaksana secara optimal. Pada
kenyataannya sebagian besar sarana dan prasarana pada berbagai jenis dan
jenjang pendidikan di
pembelajaran yang diinginkan.
Kondisi saat ini menunjukkan banyak sekolah di
sarana dan prasarana yang memadai baik dalam hal kuantitas maupun
kualitas. Permasalahan lain adalah masih adanya kesenjangan ketersediaan
sarana dan prasarana antar sekolah dan antar daerah. Atas dasar kenyataan
itu, ditetapkan standar minimum sarana dan prasarana sekolah-sekolah di
2007. Diharapkan dengan adanya standar ini keberadaan sarana dan
2
prasarana mampu mendukung pembelajaran dalam rangka peningkatan mutu
pendidikan.
Standar sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu dari delapan
standar pendidikan yang disiapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP) berdasarkan amanat yang dituangkan dalam UU RI No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Standar lainnya adalah standar isi,
standar proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga kependidikan,
standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan
(lihat http://www.bsnp-indonesia.org/standards.php).
Standar kompetisi dan kompetisi dasar matematika
Pada abad ke-20 matematika telah membawakan suatu kegiatan intelektual
yang tingkat kecanggihannya sangat tinggi, meskipun matematika sendiri
tidak mudah untuk didefinisikan. Subjek yang sekarang dikenal sebagai
matematika pada awalnya merupakan hasil perkembangan terdahulu dari
konsep bilangan, pengukuran, dan bentuk. Secara sederhana, matematika
didefinisikan sebagai studi tentang besaran, dan keterkaitannya dengan
bilangan atau simbol. Dalam matematika dikenal berbagai subjek penting,
aritmetika, geometri, aljabar, kalkulus, probabiliti, statistik, dan banyak lagi
topik khusus dalam penelitian.
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan
teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan
memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang TIK dewasa
ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar,
analisis, teori peluang, dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan
mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang
kuat sejak dini.
Mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik untuk
membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis,
kritis, dan kreatif, serta mampu bekerjasama. Kompetisi tersebut diperlukan
agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan
memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu
berubah, tidak pasti, dan kopetitif.
Standar kompetisi dan kompetisi dasar matematika disusun sebagai landasan
pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain
itu, dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan
matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau
gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran
matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah
terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara
penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu
dikembangkan ketrampilan memahami masalah, membuat model
matematika, menyelesaikan masalah dan menafsirkan solusinya.
3
Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai
dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi. Dengan mengajukan
masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk
menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan
pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan TIK seperti komputer, alat
peraga, atau media lainnya.
TIK dan pembelajaran matematika
Memasuki abad ke-21, bidang TIK berkembang dengan pesat yang dipicu
oleh temuan dalam bidang rekayasa mikroelektronika. Perkembangan ini
berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan
aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada TIK. Perkembangan TIK
telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam
proses pembelajaran. Terjadi pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:
dari ‘ruang kelas’ ke ‘di mana saja’, dari ‘waktu siklus’ ke ‘waktu nyata’, dari
‘kertas’ ke ‘on line’, dan dari ‘fasilitas fisik’ ke ‘fasilitas jaringan kerja’.
Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan
tatap muka, tetapi dapat juga dilakukan dengan menggunakan media-media
komunikasi seperti telepon, sms, dan e-mail. Guru dapat memberikan layanan
tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula, siswa dapat
memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui
internet.
Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan internet
sebagai media utamanya mampu memberikan kontribusi yang demikian besar
bagi proses pendidikan. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi
terjadinya perubahan mendasar terhadap peran guru: dari informasi ke
transformasi.
Sebagai seorang professional, guru memiliki
merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi
hasil pembelajaran, menindaklanjuti hasil pembelajaran, serta melakukan
bimbingan dan konseling. TIK tentunya dapat berperan pada kelima tugas
pokok tersebut.
Dalam pembelajaran matematika yang paling penting ditekankan adalah
ketrampilan dalam proses berpikir. Siswa dilatih untuk dapat mengembangkan
kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, dan konsisten. Untuk
membantu dalam proses berpikir tersebut, gambar dan atau animasi dapat
digunakan. TIK dapat berperan di sini. Dalam perencanaan pembelajaran
guru dapat memperkaya materi yang akan disampaikan dengan mengambil
beberapa contoh kontekstual yang ada di dunia maya dengan bantuan
internet.
Pada saat pelaksanaan pembelajaran, komputer dapat digunakan sebagai
media. Komputer bisa menyajikan media dalam bentuk grafis dan audiovideo.
Tentunya ini akan menambah daya tarik bagi siswa dalam belajar. Sifat
kemonotonan penyajian pada pengajaran ‘konvensional’ dapat dikurangi.
Pembelajaran matematika yang selama ini dianggap sangat ‘menakutkan’
4
tidak perlu terjadi karena prosesnya diberikan secara menarik dan
menyenangkan oleh guru mata pelajaran tersebut. Dengan bantuan beberapa
perangkat lunak beberapa konsep matematika seperti volume benda putar,
konsep limit, dan geometri dengan mudah dapat diterangkan dan bukti-bukti
matematika dapat disajikan dengan lebih menarik.
Dengan TIK, soal evaluasi dapat dengan mudah dibuat beragam. Soal-soal
dengan mudah dapat dikombinasikan untuk mendapatkan beberapa paket
soal. Ini tentunya akan membantu mengurangi kecurangan dalam
pengerjaannya. Walaupun soal dibuat beraneka ragam, dengan bantuan TIK
proses penilaian masih dapat dibuat cepat. Selanjutnya, dengan e-mail atau
jalinan komunikasi antara guru dengan siswa atau dengan orang tua siswa
dapat ditingkatkan. Jika terdapat masalah pada peserta pembelajaran, maka
akan cepat didiskusikan cara penyelesaiannya. Tentunya ini akan
meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu, guru atau siswa dengan
bantuan internet dapat dengan mudah untuk mendapatkan informasi
tambahan yang akan membantu memperkaya wawasan.
Kesimpulan
TIK dapat berperan dalam pembelajaran matematika. Guru dapat
memanfaatkan TIK dalam membantu pelaksanaan tugas pokoknya. Materi
pembelajaran dapat dibuat lebih menarik sehingga siswa akan lebih
termotivasi dalam belajar. Selain itu, siswa dan guru mudah mendapatkan
pengkayaan materi ajar sehingga akan meningkatkan pemahaman dan
Informasi Online dalam Dunia Riset dan Pendidikan
Informasi Online dalam
Dunia Riset dan Pendidikan
Abstrak
Informasi dan ilmu pengetahuan sampai pada kita lewat berbagai jalan. Pada zaman dahulu, papirus,batu tulis, tulang dan buku menjadi media utama tersampainya ilmu pengetahuan. Seiring dengan majunya teknologi, dewasa ini informasi mengalami perubahan format ke dalam bentuk digital. Ide yang dimuat dalam kertas mulai tergantikan menjadi versi elektronik. Kita memasuki era paperless.
Perubahan format ini membuka peluang besar bagi kemudahan akses informasi, apalagi dengan
membuatnya dapat diakses secara online. Dengan bermodal komputer, dewasa ini kita dapat
menjelajahi dunia cyber, yang kaya akan informasi. Berbagai penelitian berkesimpulan bahwa proses meng-online-kan informasi ini merupakan salah satu faktor penting yang mendorong pesatnya pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi.
1. Pendahuluan
Internet pada awalnya dikembangkan oleh AS sekitar tahun 1970, dan semula
dipergunakan terbatas untuk keperluan militer. Tiga dasa warsa berlalu. Dewasa ini di
negara maju, internet hampir menjadi kebutuhan primer.
Layanan yang ditawarkan internet pun semakin lengkap, komunikatif dan memanjakan konsumen. Teknologi ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) yang populer beberapa tahun belakangan ini membuat internet menjadi barang yang tidak asing lagi di rumah-rumah, dan semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati akses internet 24 jam.
Pada masa awal, pemakaian internet hanya terbatas untuk berkirim electronic mail.
WWW (World Wide Web) mulai populer digunakan sekitar awal tahun 90-an, dengan
memakai berbagai web browser seperti Netscape, Internet Explorer, dsb. Seiring dengan perkembangan hardware maupun software yang pesat, materi yang disampaikan lewat web pun mengalami perkembangan. Materi yang dimuat tidak terbatas berupa teks,1 Disampaikan pada seminar “Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pendidikan dan Bisnis”.
Melainkan gambar, suara, video, streaming, hingga yang bersifat interaktif, seperti
chatting, video conference dsb. Hal ini dimungkinkan oleh kemajuan teknologi di
bidang hardware dan software. Sebagaimana yang diramalkan oleh Gordon Moore
(Moore’s Law), bahwa kemampuan komputer akan berlipat dua kali setiap 18 bulan.
Dapat dikatakan, informasi yang sampai kepada kita mengalami beberapa kali
perubahan format. Informasi dan ilmu pengetahuan yang semula didokumentasikan
pada papirus, tulisan pada batu, buku, dewasa ini telah banyak yang ditransfer ke dalam bentuk digital. Tulisan ilmiah, skripsi, telah umum disimpan dalam format elektronik(misalnya format Word, PDF, dsb.), pada disket, CD ROM atau pun DVD.
Karena bentuknya tipis, ringan, sangat mudah bagi kita untuk membawa informasi itu
kemana-mana.
Selanjutnya kemajuan yang dicapai oleh teknologi internet membuat
informasi tersebut dapat ditampilkan di web, atau dikirim lewat email, sehingga dapat
diakses dari berbagai penjuru dunia. Syaratnya hanya satu: asal tersambung ke dunia
cyber.
Dengan demikian, alur penyampaian ilmu pengetahuan dewasa ini melewati beberapa
tahap : 1) mengubah format-nya dari buku ke dalam bentuk digital 2) mengirimkannya dalam bentuk “bit”, deretan kode “0” dan “1”, lewat koneksi internet kepada berbagai pihak, yang mungkin berada di manca negara. Kata kunci bagian akhir proses ini adalah "online", yaitu tampilnya suatu informasi di dunia cyber, yang pada akhirnya turutmemberikan akselerasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Makalah ini akan membahas kontribusi signifikan informasi online terhadap dunia
pendidikan dan penelitian. Pada bagian ke 2, akan dibahas proses perubahan informasi ke arah digital, dan dilanjutkan dengan proses meng-online-kan informasi digital tersebut, yang akan dibahas pada bagian ke-3.
Pada bagian berikutnya, akan dibahas pengaruh signifikan pada dunia pendidikan dan penelitian yang dipacu oleh terbuka lebarnya akses informasi. Setelah membahas beberapa masalah yang dihadapi, bagian terakhir merangkum point-point penting dalam makalah ini.
2. Informasi pada era digital
Dewasa ini hampir seluruh aspek kehidupan kita tersentuh oleh digital. Berbeda dengan informasi analog yang sifatnya kontinyu, informasi digital dicirikan dari representasinya3 dalam bentuk diskontinyu.
Contoh yang paling mudah perubahan dari analog menjadi digital adalah jam. Jam analog memiliki jarum yang berputar secara kontinyu, dapat menunjukkan waktu pada resolusi berapa pun.
Sedangkan jam digital hanya mampu menunjukkan waktu-waktu pada ketelitian terbatas, misalnya pada satuan detik. Lagu dan film yang dahulunya diabadikan dalam piring hitam atau pita kaset, dewasa ini lazim disimpan dalam bentuk digital pada media CD atau DVD. Informasi digital hampir tidak dapat terlepas lagi dari kehidupan kita sehari-hari [1].
Sebagaimana contoh di atas, dewasa ini buku, data observasi dan dokumentasi penelitian juga telah lazim ditransfer ke dalam bentuk digital.
Keuntungan informasi disajikan dalam bentuk digital antara lain sbb.
1. Kompresi data
Ini adalah kelebihan terbesar dari bentuk digital. Sebuah CD ROM yang
kapasitasnya 700 MB dapat memuat buku dengan ketebalan lebih dari 4 ribu
halaman. Dapat dibayangkan berapa besar tempat yang dapat dihemat oleh sebuah
perpustakaan, apabila literatur nya berupa file elektronik.
Contoh lain: portable harddisk Logitec LHD-PBA20U2 berukuran 7.6 x 1.5 x 13 cm,
berat sekitar 180 gram, kapasitas sekitar 20GB. Harddisk sebesar telapak tangan ini
dapat memuat buku lebih dari 100 ribu halaman dalam format pdf, atau kira-kira
sama dengan 151 jilid kamus bahasa Inggris-Indonesia, tiap jilid setebal 660
halaman, total berat 151 kg, yang kalau disusun berjajar membutuhkan ruang
sepanjang 6m.
2. Portabilitas
Data yang telah dikompresi akan berukuran jauh lebih kecil daripada aslinya. Akan
lebih ringan dan lebih mudah membawa sebuah CD ROM daripada membawa
informasi dalam bentuk buku.
Pada ilustrasi di atas lebih mudah untuk membawa hard disk portable Logitec yang beratnya hanya 180 gram dan bisa dimasukkan ke saku, padahal isinya sama dengan buku dalam 1 almari di perpustakaan. . Mudah untuk di-edit, diolah dan ditransfer ke media lain
Di masa lampau kita memerlukan penghapus, stypo, tip ex, untuk melakukan
koreksi tulisan. Jika tulisan berada dalam format elektronik, kita akan sangat mudah
melakukan koreksi, menambahkan baris, mengatur lay out tulisan.
Proses transfer pun menjadi lebih mudah. Jika dahulu kita harus memakai mesin
fotocopy untuk membuat salinan suatu artikel atau buku, saat ini kita telah terbiasa
mengcopy dokumen dalam bentuk file elektronik ke dalam disket, atau ke dalam
harddisk komputer.
3. Dari Offline menuju Online
Berbagai macam kelebihan dapat kita peroleh jika informasi disajikan berupa digital.
Buku yang berjilid-jilid dapat disimpan dalam bentuk file yang cukup dimuat dalam
sekeping CD ROM.
Proseding seminar yang dulu biasa dibagikan dalam bentuk cetak
dan beratnya kadang bisa sekitar 5 kg, saat ini lebih populer dibagikan dalam bentuk
CDROM. Akan tetapi informasi seperti ini masih tersedia dalam bentuk offline, yaitu
tidak terkoneksikan ke internet.
Kalau ada kolega kita di kota lain yang memerlukan data tersebut, mau tidak mau kita harus memakai jasa pos untuk mengirim CDROM tersebut. Tidakkah ada jalan lain yang lebih mudah untuk mentransmisikan informasi tersebut ?
Sebagaimana dijelaskan, kelebihan informasi digital adalah “kompresi” dan kemudahan untuk ditransfer ke media elektronik lain. Kelebihan ini dimanfaatkan secara optimal oleh teknologi internet, misalnya dengan menaruhnya ke suatu website atau umumnya disebut dengan meng-upload. Cara seperti ini disebut membuatnya online di dunia cyber.
Pengiriman informasi dalam CD ROM yang tadinya harus dikirimkan lewat pos,
sekarang telah dapat dilakukan secara elektronik, sehingga jauh lebih cepat. Buku yang berada di perpustakaan di Jepang, apabila dibuat dalam bentuk digital dan ditaruh di harddisk komputer yang tersambung internet, dapat langsung dinikmati oleh pelajar dan masyarakat di Indonesia. Saat saya masih mahasiswa, apabila membutuhkan suatu artikel ilmiah yang ditulis oleh professor di AS, perlu memesan ke perpustakaan dan harus menunggu, kadang berminggu-minggu, sampai artikel tersebut dapat diperoleh.
Saat ini proses mencari literatur menjadi jauh lebih mudah. Kita cukup online ke
internet, dan mendownload file tersebut dari situs yang menyediakan artikel yang
dimaksud. Kadang-kadang penulis artikel itu menaruh artikel di websitenya, agar
mudah diakses oleh peneliti lain.
Dengan kata lain, cara mengirimkan CDROM lewat pos adalah konvensional, yaitu
memindahkan “atom” dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan cara kedua dengan
mengonlinekan isi CDROM tersebut di internet, berarti mentransmisikan informasi
berupa bit dari satu terminal komputer ke yang lain.
Secepat-cepatnya kita mengirim barang, misalnya dengan Fedex atau EMS, dari Jepang ke Indonesia memerlukan waktu sekitar tiga hari. Akan tetapi proses transmisi bit pada koneksi internet jauh lebih cepat.
Dari Indonesia kita dapat mendownload suatu file di perpustakaan digital di Amerika
hanya dalam satuan detik.Dapat disimpulkan bahwa meng-online-kan suatu informasi berarti melakukan potong kompas terhadap jarak dan waktu: dua buah dimensi yang selama ini sangat membatasi aktivitas manusia. Informasi online membuat akses semakin luas, dan transfer informasi semakin cepat dan akurat.
4. Akses informasi online dalam dunia penelitian dan pendidikan
Komunitas akademik dewasa ini telah terbiasa melakukan komunikasi lewat internet.
Diskusi, pengiriman artikel, pemesanan buku, pengiriman data observasi, dan berbagai aktifitas lain dapat dilakukan dari sebuah PC yang terkoneksikan ke internet.
Akses informasi yang dapat dilakukan kapan saja, siapa saja, di mana saja ini, telah
memberikan kontribusi signifikan terhadap berkembangnya ilmu pengetahuan.
Perpustakaan merupakan sumber literatur utama bagi seorang peneliti untuk mengikuti perkembangan bidang yang ditekuninya.
Sebagian besar waktu dihabiskan untuk membaca journal ilmiah, laporan penelitian, prosiding seminar, yang tersedia dalam bentuk buku, disimpan di perpustakaan. Hal yang paling sulit adalah bagaimanamemilih informasi yang diperlukan di antara ribuan atau jutaan halaman yang tersedia, padahal waktu yang ada sangat terbatas.
Masalah ini dapat dipecahkan apabila journal, laporan, buku dan informasi lain yang
dicari tersebut berada dalam format elektronik (misalnya format PDF, Word, postscript dsb.), sehingga dapat diakses online melalui internet. Misalnya situs journal IEEE(http://www.ieee.org), PubMed, dll. Dengan adanya sumber online, peneliti lebih mudah mencari literatur dan informasi terbaru dalam bidangnya.
Ada layanan yang mempermudah memilih informasi online yang diperlukan, yaitu
searching engine di internet. Yang sangat populer adalah http://google.com dan
http://yahoo.com. Situs searching engine lain seperti http://vivisimo.com memiliki
kelebihan, dengan mengelompokkan hasil searching ke dalam beberapa group (cluster), menurut kata kunci pada situs tersebut. Tersedianya informasi di internet dan semakin canggihnya alat pencari membuat peneliti menjadi lebih cepat dalam mencari informasi yang diperlukannya.
Apakah efek kemudahan mendapatkan informasi di intenet ? Salah satu penelitian
menarik dilakukan oleh Steve Lawrence, yang dimuat di journal penelitian terkemuka
Nature [2] memberikan kesimpulan bahwa frekuensi rujukan terhadap artikel yang
dimuat online (ditampilkan di internet), ternyata lebih banyak daripada artikel yang
dimuat secara offline (tidak ditampilkan di internet).
Lawrence mengamati sekitar 120 ribu artikel ilmiah di bidang komputer, yang dipublikasikan dari tahun 1989 sampai 2000. Data menunjukkan bahwa artikel yang ditampilkan secara online rata-rata 7.03 kali dijadikan rujukan oleh penelitian lain, sedangkan artikel offline hanya sekitar 2.74.
Fakta ini membuat Lawrence berkesimpulan, bahwa peningkatan kemampuan akses
terhadap suatu paper meningkatkan kesempatan bagi peneliti lain untuk menemukan
informasi yang diperlukan. Hal ini akan berdampak nyata pada berkembangnya suatu
disiplin ilmu.
Contoh lain adalah tersedianya data hasil observasi di internet agar dapat dimiliki
bersama. Misalnya sebagaimana yang lazim dilakukan dalam bidang bioinformatika.
Bioinformatika merupakan bidang baru yang merupakan perkawinan antara biologi dan teknologi informasi. Dalam hal ini, istilah “teknologi informasi” tidak terbatas pada internet saja, melainkan pada proses pengolahan informasi secara umum.
Dengan demikian aspek teknologi informasi dalam bioinformatika melibatkan juga teknologi database, pattern recognition, softcomputing, expert system, kecerdasan buatan, dsb.
Dewasa ini, seiring dengan selesainya Human Genome Project, susunan DNA tubuh
manusia telah dapat dipetakan. Dalam era post genome project ini minat penelitian
ditujukan untuk menemukan fungsi dari gen pada tubuh manusia, dan aplikasinya pada
dunia medis. Misalnya pemilihan terapi penyakit yang tepat bagi individu, yang sering disebut dengan tailormade medicine. Artikel ilmiah maupun data yang dipakai dalam penelitian tsb. umumnya tersedia secara online, dan dapat diakses oleh peneliti yang lain.
Dengan demikian terbuka kesempatan bagi anggota komunitas bioinformatika yang lain untuk membahas dan menganalisa data sesuai dengan spesialisasi masing-masing. Hal ini turut mendorong ditemukannya metoda-metoda komputasi baru yang menjadi
feedback positif bagi peneliti tersebut.
Dari contoh-contoh di atas dapat dirangkumkan bahwa usaha meng-online-kan
informasi memiliki beberapa manfaat penting, antara lain:
1. Artikel ilmiah yang dimuat secara online, memiliki potensi akses yang lebih besar
dan lebih sering dipakai sebagai rujukan
2. Semakin luasnya kesempatan akses pada suatu informasi, pada gilirannya dapat
memberikan feedback positif bagi pemilik awal informasi tersebut
3. Data dan informasi yang dimuat secara online dapat membantu akselerasi
perkembangan suatu cabang ilmu pengetahuan baru.
5. Usaha yang dilakukan oleh komunitas TI Indonesia
Usaha meng-online-kan informasi penelitian ini tidak hanya dilakukan oleh negara maju. Komunitas TI Indonesia tidak ketinggalan dalam memanfaatkan teknologi internet untuk meng-online-kan informasi dalam dunia penelitian. Beberapa usaha yang telah dilakukan antara lain:
1. Edukasi online
Aktifitas yang sering disebut dengan e-learning ini memanfaatkan internet sebagai
wahana belajar mengajar. Beberapa di antaranya adalah situs berita iptek
(http://beritaiptek.com) yang memuat berita ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
bahasa Indonesia, situs ilmukomputer.com yang mendapat penghargaan
internasional WSIS award dari PBB, dan situs-situs lain yang belakangan ini
semakin menjamur.
2. Digital Library
Salah satu contoh adalah http://www.greendigitalpress.com. Usaha ini dirintis oleh
Arief Budi Witarto dan Romi Satria Wahono, keduanya peneliti di LIPI. Ide awal
proyek ini berasal dari keinginan mewujudkan perpustakaan digital
dapat diakses online di internet.
Contoh dari situs serupa di dunia adalah situs PubMed (http://www.pubmed.com) di bidang biomedik, atau situs CiteSeer.IST (http://citeseer.ist.psu.edu) di bidang komputer, yang menyediakan ribuan artikel ilmiah dalam format elektronik (format PDF) kontribusi dari seluruh dunia. Situs digital library
3. Diskusi ilmiah lewat mailing list (disingkat milis)
Mailing list adalah forum diskusi yang berlangsung lewat electronic mail. Beberapa
komunitas ilmiah seperti IECI (Indonesian Society on Electrical, Electronics,
Comunication & Information), HFI (Himpunan Fisika
Biotek-indonesia.net telah memiliki forum diskusi sendiri. Pada milis yang aktif,
secara reguler diadakan seminar online. Salah satu peserta mempresentasikan
penelitiannya, dan peserta yang lain mengajukan pertanyaan atau memberikan
masukan, lewat email. Selain presentasi penelitian, konsultasi masalah, kegiatan lain
misalnya resensi paper penelitian yang terbaru.
6. Masalah yang timbul saat meng-online-kan informasi
Semakin banyaknya informasi tersedia secara online, memberikan efek positif bagi
kegiatan bisnis, pendidikan dan penelitian. Namun hal ini tidak terlepas dari berbagai
kendala yang perlu diwaspadai oleh pengguna internet.
1. Sekuriti
Masalah utama pemakai internet adalah sekuriti. Serangan virus, spamming mail
merupakan ancaman pertama begitu kita online di internet. Virus dapat menghapus
data di hard disk, merusak file penelitian dan mencuri informasi pribadi.
2. Hak cipta
Tulisan ilmiah yang dibuat online seringkali dijiplak oleh pihak lain tanpa seijin
pemiliknya. Kalimat-kalimat pada suatu artikel dikutip tanpa menyebutkan referensi
asalnya. Ada juga pihak tak bertanggung jawab yang memakai material di internet,
tapi menghapus nama pengarangnya, atau sumber asli artikel tersebut. Seolah-olah
artikel itu adalah karyanya sendiri. Hal-hal ini dapat dikategorikan kejahatan
intelektual, dan merugikan penulis asli tulisan tersebut.
3. Kendala teknis untuk artikel yang hanya tersedia versi cetak
Tidak semua journal tersedia dalam bentuk elektronik. Terutama untuk artikel yang
diterbitkan sebelum tahun 1990, seringkali hanya tersedia versi cetak. Misalnya
journal ilmiah IEEE Trans.
On Pattern Analysis and Machine Intelligence (PAMI), kalau dilihat di situs http://www.computer.org/tpami hanya menyediakan versi elektronik mulai tahun 1988. Artikel-artikel yang sudah tua juga masih tersedia dalam wujud “atom”, yaitu berupa kertas. Tapi dewasa ini, sudah banyak dijual scanner yang mampu men-scan satu halaman dokumen dalam waktu kurang dari 1 detik, dan langsung dikonversikan ke format PDF. Misalnya “ScanSnap” produk
Fujitsu, yang sudah termasuk di dalamnya software Adobe Acrobat untuk
mengkonversikan hasil scan ke dalam format PDF.
Selain masalah tersebut masih banyak hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam
meng-online-kan informasi. Resiko memang ada. Tapi hal itu memang harus kita lewatiuntuk mencapai kemajuan. No risk, No gain.
7. Kesimpulan
Makalah ini membahas mengenai pengaruh positif dari informasi online. Berbagai
penelitian menunjukkan adanya kontribusi signifikan dari informasi online terhadap
akselerasi penelitian iptek.
Hal ini ditunjukkan antara lain oleh tingginya frekuensi rujukan paper ilmiah online dibandingkan paper yang tidak dapat diakses online, cepatnya perkembangan bidang bioinformatika yang memanfaatkan internet secara optimal untuk bertukar data dan hasil observasi. Walaupun pada pelaksanaannya masih ada kelemahan dan kendala dalam hal sekuriti, hak cipta dll. tetapi proses meng-online-kan informasi ini merupakan etape yang harus kita lalui untuk memajukan pendidikan dan riset di Indonesia.
Referensi
[1] Nicholas Negroponte, Being Digital, Random House (1996)
[2] Steve Lawrence, “Online or Invisible”, Nature, Vol.411, No.6837, pp.5221, 2001
versi online dapat diakses di http://citeseer.ist.psu.edu/online-nature01/
Anto Satriyo Nugroho
Alumni SMAN 1 Surakarta th.1989. Anggota tim IMO
XXX di Braunscweig, Jerman, 1989. Pendidikan S1
(B.Eng), S2 (M.Eng) dan S3 (Dr.Eng) diselesaikan pada
tahun 1995, 2000 dan 2003, di Dept. of Electrical &
Computer Engineering, Nagoya Institute of Technology,
Japan, atas beasiswa STMDP-II dan Monbukagakusho.
Bekerja di Pusat Pengkajian & Penerapan Teknologi
Informasi & Elektronika (P3TIE), BPP Teknologi, Jakarta. Saat ini ditugaskan ke
Jepang untuk kerjasama penelitian, dan berstatus sebagai visiting professor pada School
of Life System Science & Technology,
dilakukan saat ini adalah analisa informasi dimensi tinggi dan aplikasinya pada
bioinformatika. Anggota organisasi ilmiah IEEE, IEICE, IECI, ISTECS, ISCB, IPSJ dan
JSBI.
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”
DI SUSUN OLEH :
IRWAN JAYA ,S.Pd
NIP 510 156 631
UNIT KERJA
SMKN 1 PAMEKASAN
PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMK NEGERI 1 PAMEKASAN
Jalan Pintu Gerbang 157 Telp. (0324) 322355 Fax. 328409
PAMEKASAN 69316
KATA PENGANTAR
Dengan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa kami panjatkan karena berkat
dan petunjuknya kami dapat menyusun Makalah dengan judul “.KETERAMPILAN
DASAR MENGAJAR KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”
Makalah ini merupakan bahan kajian mengenai suatu sistem untuk
menghasilkan informasi berkenaan dengan tersebut dapat digunakan dalam
rangka Pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum Tiingkat Satuan
pendidikan pada setiap sekolah..
Dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dewasa ini di perlukan
beberapa metode dalam pembelajaran Bidang studi IPA yang tidak terlepas
dengan penguasaan atau media yang menggunakan Teknologi dan Informatika..
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penyusunan makalah, semoga dapat meningkatkan hasil proses
belajar-mengajar yang maksimal dan upaya peningkatan mutu sumber daya
manusia melalui sekolah menengah kejuruan akan benar-benar mencapai
sasaran.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih ada
kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun
sangat kami harapkan untuk memperbaiki penerbitan berikutnya.
Hormat kami
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab I Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 1
C. Ruang Lingkup 1
Bab II KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR BIDANG STUDI IPA 4
A. Hakekat Pengajaran Sains dengan menggunakan TIK 4
B. Keterampilan Mengajar Demonstrasi 7
C. Keterampilan Mengajar Eksperimen Dengan Menggunakan TIK 11
Bab III Penutup 15
Daftar Pustaka 16
Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Saat ini sedang dikembangkan paradigma baru kurikulum pendidikan dasar
dan menengah dimana kini guru diharapkan hanya sebagai fasilitator dalam
proses belajar mengajar, dengan pembelajaran yang lebih realistik dan aplikaif
khususnya bidang pelajaran IPA, Oleh karena itu perlu dikermbangkan materi
Keterampilan Dasar Pembelajaran IPA yang berbasis TIK yang aplikatif dan
realistik, untuk lebih memudahkan tercapainya keberhasilan proses
pembelajaran IPA dengan paradigma baru tersebut.
B. Tujuan
Tujuan penulisan makalah Pembelajaran IPA ini untuk menghasilkan suatu
bahan ajar kepada siswa yang mengikuti teknologi komputer seiring dengan
perkembangan jaman..
C. Ruang Lingkup
Keterampilan dasar IPA ini oleh penulis ini di terapkan pada sekolah kejuruan
yang merupakan basis dari praktek pendidikan yang menuntut skill dan
keterampilan pada praktek IPA yang digabaung dengan pemakaian teknologi
Komputer.
BAB III
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
BIDANG STUDI IPA
Keterampilan Dasar Mengajar I, Keterampilan Dasar Mengajar II,
Keterampilan Dasar Mengajar III merupakan keterampilan dasar mengajar yang
perlu dimiliki oleh guru dari semua bidang studi. Jika dipertimbangkan bahwa
bidang-bidang studi yang ber-macam-macam mempunyai ciri-ciri pengajaran
yang khas, keterampilan mengajar untuk bidang-bidang studi khusus perlu
dikembangkan. Perkembangan dunia pendidikan menggunakan program
Komputer saat ini menyebabkan kekhasan ciri pengajaran dari masing-masing
studi makin tampak, dan perbedaannya dengan pengajaran bidang studi lain
makin nyata.
A. Hakekat Pengajaran Sains dengan menggunakan TIK
Pemahaman orang terhadap hakekat sains, hakekat belajar dan
pembelajaran dengan mengunakan TIK yang semakin luas membawa banyak
perubahan dalam dunia pembelajaran sains. Pemahaman terhadap sains
dengan mengunakan TIK telah berkembang dari pemahaman bahwa sains
sebagai produk produk sains (a body of knowledge) menjadi: sains sebagai cara
berpikir dan bertindak (Science as a way of thinking and acting), sains sebagai
keterampilan proses sains (Science is process science skills), sains sebagai
proses penyelidikan ilmiah (Science as a way of investigating). Perubahan
pemahaman terhadap hakekat sains tersebut, secara konseptual, pandangan
orang terhadap pendidikan sains semakin mengarah pada makna yang hakiki
dari belajar dan pembelajaran sains. Makna hakiki dari belajar dan pembelajaran
sains adalah pendidikan sains lebih diartikan sebagai pembentukan kompetensi
anak didik melalui peningkatan motivasi dan aktivitas diri siswa (competencebased
learning) daripada pembekalan pengetahuan melalui transfer
pengetahuan dari guru ke siswa (knowledge-based learning). Sebagai contoh,
digunakannya pendekatan keterampilan proses sains dalam kurikulum 1984 dan
1994 di SD, SLTP dan SMU di Indonesia menandakan bahwa pendidikan di
sekolah-sekolah tersebut menekankan terbentuknya keterampilan proses sains
pada diri siswa daripada pemberian bekal pengetahuan keilmuan melalui
konsep-konsep yang diajarkan oleh guru. Lebih dari itu, jika pada akhir-akhir ini
para ahli pendidikan sains mengembangkan pendekatan-pendekatan baru
(misalnya pendekatan konstruktivisme dan pendekatan STS) maka mereka
menganjurkan agar dalam pendidikan sains para siswa lebih banyak diberi
kesempatan belajar dalam lingkungan yang memberdayakannya untuk
membangun sendiri konsep-konsep sains selaras dengan taraf perkembangan
dan kebutuhannya, sesuai dengan latar belakang kondisi masyarakat dan
lingkungan hidupnya.
Kalau memperhatikan kecenderungan para ahli pendidikan sains untuk
menganjurkan digunakannya pendekatan-pendekatan pembelajaran yang
mendorong terbentuknya lingkungan belajar konstruktivisme, pembelajaran sains
di sekolah tampaknya perlu menggunakan metode-metode pembelajaran yang
dapat mengaktifkan siswa untuk membangun pemahamannya tentang alam
semesta dan lingkungan sekitar dengan menggunakan keterampilan proses
sains. Metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran
sains yang bersifat konstruktivisme terutama adalah metode eksperimen, metode
demonstrasi, metode karya wisata, dan metode proyek. Namun, metode-metode
tersebut menjadi lebih efektif kalau disertai dengan metode-metode yang lain,
misalnya: metode diskusi, metode simulasi.
Perkembangan tersebut perlu diikuti dengan pembentukan atau
peningkatan keterampilan mengajar guru dalam menerapkan metode-metode
pembelajaran tersebut di atas. Keterampilan dasar mengajar untuk pembelajaran
dengan metode-metode khusus bidang studi sains (ilmu pengetahuan alam)
akan meningkatkan intensitas pembelajaran komputer , mungkin bukan hanya
kompetensi dibidang sains, melainkan juga kompetensi di berbagai aspek
kehidupan manusia.
B. Keterampilan Mengajar Demonstrasi
1. Prinsip-prinsip Mengajar dengan Demonstrasi yang menggunakan TIK
Demonstrasi merupakan suatu metode mengajar yang sering digunakan
dalam pembelajaran sains. Demonstrasi dengan menggunakan Komputer untuk
memperagakan:
1. cara menggunakan alat, misalnya: cara menggunakan stetoskop.
2. prinsip dan prosedur kerja suatu alat, misalnya: prinsip kerja mesin pengolah
tebu menjadi gula.
3. prosedur pelaksanaan percobaan/eksperimen, misalnya: prosedur percobaan
untuk menguji adanya karbohidrat dalam tepung.
4. fenomena alam dalam rangka pemahaman suatu konsep atau prinsip sains,
misalnya: fenomena tentang nyala dua bola lampu listrik yang dipasang
secara seri atau paralel.
5. merangsang siswa untuk menemukan masalah dan membimbing siswa untuk
memecahkan masalah.
Dalam pembelajaran sains yang mnebggunakan TIK , demonstrasi dapat
memberikan fasilitas kepada siswa untuk meningkatkan keterampilan proses
sains, dan mealkukan inkuari ilmiah, antara lain:
1. meningkatkan keterampilan mengamati, dan rasa ingin tahu,
2. memberi inspirasi untuk meningkatkan keterampilan memprediksi, inferensi,
dan komunikasi.
3. meningkatkan kejelian terhadap adanya masalah.
4. memberi arah untuk menemukan atau menyusun hipotesis.
5. memberi inspirasi untuk merancang investigasi.
Demonstrasi dengan mengunakan komputer meliputi kegiatan
memamerkan dan menjelaskan (pada pihak guru), mengamati dan mereplikasi
(pada pihak siswa). Demonstrasi menjadikan bahan ajar lebih konkret dan lebih
nyata bagi siswa, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menyaksikan atau mengalami kejadian atau keterampilan nyata sambil
memperhatikan penjelasan.
Demonstrasi dapat digunakan sebagai metode pembelajaran yang berdiri
sendiri dalam suatu proses belajar mengajar, atau dapat digunakan bersamasama
dengan metode lain dalam suatu kombinasi multimetode. Penerapan
demonstrasi sebagai metode yang berdiri sendiri dalam suatu proses belajar
mengajar dapat dijalankan dengan mengikuti prosedur yang diusulkan oleh Joice
and Well dalam Louisell (1992). Ia membagi prosedur demonstrasi menjadi
tahap.
1. Pembukaan.
2. Menyajikan pengetahuan prasyarat atau rasional.
3. Menampilkan model penampilan dengan benar. Tahap ini merupakan tahap
pelaksanaan demonstrasi, dan pada tahap ini guru dituntut untuk melakukan
tiga hal:
a. Mempelajari dan menguasai konsep dan keterampilan yang akan
didemonstra-sikan,
b. Memecah-mecah konsep atau keterampilan menjadi komponenkomponen
lebih kecil dan mengaturnya dalam urutan belajar yang sesuai,
c. Menjalankan langkah-langkah demonstrasi tahap demi tahap (untuk ini
perlu dibuat persiapan tertulis).
4. Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih dalam kondisi terkontrol.
5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mentransfer pengetahuan dan
pengalaman-nya ke situasi yang kompleks.
Jika dipadukan dengan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan
awal, inti dan penutup, tahap-tahap demonstrasi itu dapat diuraikan sebagai
berikut.
Tahap-Tahap Demonstrasi dengan menggunakan TIK (Joice and Well, dalam
Louisell, 1992)
Tahap
pembelajaran
Tahap Demonstrasi Keterangan
Pembukaan. Membangkitkan motivasi
kepa-da siswa.
Awal
Menyajikan pengetahuan
prasyarat atau rasional. Lewat
media pembelajaran Komputer
Menggali pengetahuan awal
sis-wa, bisa kemampuan
prasyarat atau pengetahuan
awal tentang konsep yang
dipelajari.
Pelaksanaan demonstrasi. Penyajian, penjelasan
konsep.
Inti
Memberi kesempatan pada
siswa untuk berlatih dalam
kondisi terkon-trol.
Kegiatan latihan siswa untuk
merefleksikan materi yang
telah didemonstrasikan:
mencatat da-ta yang ada di
Komputer , menganalisis
data, dan pena-rikan
kesimpulan. Bila diperlu-kan
siswa diberi kesempatan
untuk mengulang
demonstrasi.
Penutup Memberi kesempatan kepada
siswa untuk mentransfer
pengetahuan yang di dapat dari
Komputer dan pengalamannya
ke situasi yang kompleks.
Kegiatan pemantapan: tugas
ru-mah, proyek, dll.
Jika demonstrasi digunakan dalam proses pembelajaran yang
menggunakan Program komputer sebagai kombinasi metode di antara metode
yang lain, pelaksanaan demonstrasi dapat ditempatkan pada awal, inti atau
penutup pelajaran. Jika ditempatkan pada awal pelajaran, demonstrasi
dimaksudkan untuk membangkitkan motivasi belajar, memberi kesempatan
kepada siswa untuk mengeksplorasi fenomena dan masalah, serta menggali
pengetahuan awal siswa tentang konsep yang sedang dipelajari. Pada inti
pelajaran demonstrasi bermanfaat untuk menunjukkan fakta, atau menjelaskan
konsep atau prinsip. Pada akhir pelajaran demonstrasi dapat digunakan untuk
menilai hasil belajar siswa; penilaian ini merupakan penilaian terhadap
pengalaman langsung siswa, dan cocok untuk menilai kemampuan keterampilan
proses sains. Dalam pelaksanaannya, selama atau sesudah demonstrasi siswa
diberi pertanyaan tentang hal-hal yang tampak atau mungkin tampak.
2. Keterampilan Khusus Berdemonstrasi
Secara umum demosntrasi dalam proses pembelajaran dimaksudkan
untuk meningkatkan keefektifan tercapainya tujuan pengajaran. Demonstrasi
dapat dilaksanakan sebagai satu metode dalam satu proses pembelajaran
menggunakan Komputer , atau sebagai salah satu metode dalam suatu perose
pembelajaran. Demonstrasi dapat disajikan di awal pelajaran, dengan tujuan
untuk menyajikan fenomena, menggali pengetahuan awal siswa, dan memotivasi
belajar siswa. Maka dari itu, guru perlu menguasai kecakapan dan keterampilan
berdemon-strasi.
a. Prademonstrasi
1) Memahami tujuan demonstrasi. Dalam pembelajaran konstruktivisme,
tujuan khusus demonstrasi ada dua macam: (1) demonstrasi pada awal
pelajaran bertujuan untuk menampilkan fenomena yang menimbulkan konflik
kognitif, (2) demonstrasi pada pengajaran inti bertujuan untuk menyajikan fakta
atau data, untuk memecahkan masalah, (3) demonstrasi pada akhir pelajaran
untuk memberi gambaran mengenai aplikasi konsep.
2) Mengenali fakta atau informasi esensial dari konsep yang akan
didemonstrasikan. Fakta atau informasi esensial inilah yang perlu dijadikan fokus
amatan oleh siswa ketika demonstrasikan.
3) Merancang bahan atau kegiatan untuk demonstrasi. Yang dimaksud disini
adalah menerjemahkan informasi verbal pada konsep materi pelajaran menjadi
informasi yang dapat divisualisasikan dalam demonstrasi.
4) Merancang prosedur pelaksanaan demonstrasi. Lihat Tabel 5.1.
Disamping prosedur sebagaimana dikemukakan pada Tabel 5.1, hal yang perlu
dirancang adalah urut-urutan penyajian demonstrasi jika informasi yang akan
ditampilkan merupakan beberapa seri informasi. Urutan seri informasi perlu
dirancang.
b. Pelaksanaan Demonstrasi
1) Menjalankan demonstrasi dengan lancar dan benar, agar informasi yang
dimunculkan benar sesuai dengan yang direncanakan.
2) Menampilkan fenomena secara atraktif, khususnya fenomena-fenomena yang
diharapkan dapat menimbulkan konflik kognitif pada siswa. Lewat program
komputer Demonstrator dapat melakukan trik-trik untuk mengkonflikkan pikiran
siswa dengan fenoman yang teramati. Ketika pejetan dilepaskan pelan-pelan
sambil menurunkan botol ke meja, akan tampak seolah-olah turunnya tabung
reaksi karena botol diturunkan. Pada hal, tabung reaksi tenggelam ketika botol
dipejet karena volume air yang masuk ke dalam tabung reaksi bertambah,
sebaliknya volume air di dalam tabung reaksi berkurang ketika pejetan
dilepaskan. Itulah yang disebut konflik kognitif. Atraksi seperti itu sangat menarik,
layaknya bermain sulap.
3) Penampilan demonstrasi dapat diulang, untuk memperbanyak sampel
pengamatan.
4) Mengatur posisi peralatan, sampai demonstrasi dapat diamati dengan
jelas oleh semua anggota kelas.
c. Pasca Demonstrasi
1) Kesenyapan. Setelah demonstrasi berakhir, guru diam beberapa saat
untuk menunggu respons dari siswa, mungkin (sampai) ada siswa yang
mengajukan masalah dari fenomeda yang diamati. Jika respons tidak muncul,
masalah dapat diajukan sendiri oleh guru.
2) Berdiskusi atau melakukan demonstrasi lanjutan, untuk mengajak siswa
mengajak siswa menemukan jawaban atas masalah yang dikemukakan.
C. Keterampilan Mengajar Eksperimen Dengan Menggunakan
TIK
1. Prinsip-Prinsip Pengajaran Eksperimen
Eksperimen merupakan bagian sangat penting dalam pembelajaran
sains, kerena hal eksperimen itulah yang membedakan sains yang mengunakan
Komputer dengan mata pelajaran lain. Metode eksperimen dapat digunakan
untuk melatih siswa dalam melakukan studi alamiah yang menggunakan
langkah-langkah metode alamiah, yang meliputi: observasi, penemuan masalah,
penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Karena
dalam pelaksanaan eksperimen itu banyak keterampilan proses yang perlu
digunakan, maka metode ini merupakan strategi yang penting untuk
membelajarkan keterampilan proses kepada siswa, terutama keterampilan
proses terintegrasi.
Metode eksperimen sangat khas untuk membelajarkan prinsip atau
generalisasi hubungan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Sehubungan dengan penjelasan ini, metode eksperimen dapat dibagi menjadi
eksperimen sederhana, eksperimen terkontrol, dan eksperimen berujung-terbuka
(open-ended experimen) (Thurber dan Collete, 1968). Dengan adanya
pembagian ini, guru tidak perlu khawatir bahwa pelaksanaan eksperimen di kelas
sains yang mnenggunakan TIK akan memakan waktu banyak, pelaksanaannya
rumit dana adanya kesulitan yang lain.
a. Eksperimen sederhana
Banyak masalah IPA yang dapat dipecahkan dengan eksperimen
sederhana, sehingga tidak memerlukan tahap-tahap kerja yang terpisah untuk
menyelesaikannya. Langkah dari eksperimen sederhana itu adalah: 1)
pengajuan masalah, 2) pelaksanaan percobaan untuk pengamatan, dan 3)
pengambilan kesimpulan. Dalam eksperimen sederhana ini tidak perlu dilakukan
pengontrolan terhadap variabel-variabel bebas yang tidak dipelajari, karena
pengaruhnya terhadap variabel terikat dapat diabaikan atau memang tidak ada
variabel lain yang berpengaruh kecuali variabel yang sedang dipelajari.
Sebagai contoh, masalah yang akan dipecahkan adalah: “Apakah tepung
beras mengandung amilum?” Masalah itu cukup dipecahkan dengan percobaan,
yang dilakukan dengan meneteskan larutan YKY (yodium) pada tepung beras,
kemudian mengamati bahwa zat tersebut berubah warna biru. Untuk mengambil
kesimpulan, siswa cikup diminta untuk melakukan 2-3 kali percobaan, untuk
mengambil kesimpulan bahwa tepung beras mengandung amilum berdasarkan
perubahan warna yodium menjadi biru.
b. Eksperimen terkontrol
Hubungan antara suatu variabel bebas dan variabel terikat dalam
fenomena-fenomena alam banyak yang tidak dapat diamati karena adanya
variabel lain yang berpengaruh terhadapa variabel terikat yang diamati.
Misalnya, pada suatu tanaman pot baru yang tanahnya diberi urea,
pertumbuhannya subur; tetapi tidak dapat disimpulkan begitu saja bahwa yang
menyebabkan subur adalah zat urea, karena orang berpikir bahwa faktor lain
juga dapat berpengaruh. Hubungan antara variabel-variabel seperti itu dapat
diajarkan kepada siswa dengan metode eksperimen terkontrol. Dalam metode ini
dibuat eksperimen dengan menggunakan dua kelompok tanaman pot yang
medium tanahnya sama, tetapi pada satu kelompok tanaman tanahnya diberi
urea sementara kelompok tanaman yang lain tidak diberi urea.
Dalam pelaksanaan metode eksperimen terkontrol, langkah-langkah yang
perlu dilaksanakan adalah: 1) pengajuan masalah, 2) pengajuan hipotesis, 3)
pengontrolan variabel (membuat perlakuan variabel bebas dan mengendalikan
varibel terkontrol), 4) pelaksanaan eksperimen, 5) pengolahan data, dan 7)
pengambilan kesimpulan. Dalam metode eksperimen terkontrol, kesimpulan
yang dibuat bersifat tertutup, artinya kesimpulan itu merupakan jawaban yang
pasti (tidak perlu dipertanyakan kebenarannya, atau tidak mengundang
munculnya masalah baru).
Contohnya sebagai berikut:
Masalah: “Mengapa tanaman padi di sawah ada yang daunnya lebih hijau dan lebih
panjang dari yang lain?
Hipotesis: “Tanaman padi yang hijau dipupuk dengan urea.”
Mengendalikan variabel: membuat dua kelompok perlakuan, satu kelompok dipupuk
urea, kelompok yang lain tidak dipupuk urea.
Pelaksanaan eksperimen: 1) melakukan penanaman padi dalam beberapa pot dengan
medium tanah yang sama, 2) pot-pot tanaman padi dibagi menjadi dua
kelompok, kelompok I dipupuk urea sedang kelompok II tidak dipupuk urea.
Pengamatan/Pengumpulan data: mengamati warna dan mengukur panjang daun
tanaman padi selama waktu tertentu.
Pengolahan data: 1) menghitung rata-rata data tinggi batang padi pada tiap perlakuan,
2) membandingkan rata-rata tinggi batang padi antara kelompok I dan
kelompok II.
Pengambilan kesimpulan: Menyimpulkan hasil pengolahan data tentang hubungan
antara urea dengan tinggi batang dan perubahan warna hijau pada daun.
Bab III
Penutup
Makalah dengan juduk Materi KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK” akan lebih mudah dimengerti
dan lebih berguna sebagai bekal bagi siswa khususnya siswa SMK, apabila
pembelajarannya lebih diorientasikan pada Realitas dan Aplikasi dalam
kehidupan sehari-hari. Di samping itu pembelajarannya juga diarahkan dengan
tahapan-tahapan yang sistematis. Oleh karena itu, pembelajaran yang ada di
dalam modul ini masih perlu dikembangkan lagi khususnya dari segi orientasi
tersebut, agar dapat meningkatkan kemampuan Belajar IPA bagi siswa SMK.
Daftar Pustaka
1. Hadley. Linear Programming. 1962. Addison – Wesley Publishing
Company, AS
3. Soekartawi, Dr. Linear Programming: Teori dan Aplikasi, khususnya di
bidang pertanian. 1992. Rajawali.
4. Soewardi, Eddy, Drs. Linear Programming. 1984. Sinar Baru
5. Yamit, Zulian. Linear Programming. 1991. Bagian Penerbitan Fakultas
Ekonomi Universitas Islam
6. Supranto, J, M.A. Linear Programming. 1983. Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas