Sabtu, 03 Juli 2010

Namaku Murningsih

saya murningsih guru sd di Muara Badak, mengajar adalah pekerjaan yang mulia bagi saya.
Karena mengajar sesungguhnya akan membuat kita semakin memahami suatu Ilmu Pengetahuan dan dapat membagikannya dengan murid-murid kita. Saat ini saya tinggal di Muara Badak Kabupaten Kutai Kerta Negara. Saya saat ini sedang Kuliah di S2 Kependidikan Universitas Mulawarman dengan Jurusan Manajemen Pendidikan Angkatan 2010.
Semoga teman-teman yang membaca perkenalan singkat ini sama-sama semangat dalam membangun pendidikan di daerah masing-masing. semoga semua sukses. amien.

Perlunya pendidikan bagi Guru

Pendidikan terhadap guru atau tenaga kependidikan dalam dirinya seharusnya merupakan satu pengantar intelektual dan praktis kearah karir pendidikan yang dalam dirinya (secara ideal kita harus mampu melaksanakannya) meliputi pemagangan. Mengapa perlu pemagangan, karena mengajar seperti juga pekerjaan dokter adalah seni. Sehingga ada istilah yang populer di dalam masyarakat tentang dokter yang bertangan dingin dan dokter yang bertangan panas, padahal ilmu yang diberikan sama. Oleh karena mengajar dan pekerjaan dokter merupakan art (kiat), maka diperlukan pemagangan. Karena art tidak dapat diajarkan adalah teknik mengajar, teknik untuk kedokteran. Segala sesuatu yang kita anggap kiat, begitu dapat diajarkan diakalau menjadi teknik. Akan tetapi kalau kiat ini tidak dapat diajarkan bukan berarti tidak dapat dipelajari. Untuk ini orang harus aktif mempelajarinya dan mempelajari kiat ini harus melalui pemagangan dengan jalan memperhatikan orang itu berhasil dan mengapa orang lain tidak berhasil, mengapa yang satu lebih berhasil, mengapa yang lain kurang berhas

Manajemen Pendidikan itu penting

Manajemen pendidikan merupakan hal yang harus diprioritaskan untuk kelangsungan pendidikan, sehingga menghasilkan keluaran yang diinginkan. Kenyataannya, banyak institusi pendidikan yang belum memiliki manajemen yang bagus dalam pengelolaan pendidikannya.
Manajemen yang digunakan masih konvensional, sehingga kurang bisa menjawab tantangan zaman dan terkesan tertinggal dari modernitas. Hal ini mengakibatkan sasaran-sasaran ideal pendidikan yang seharusnya bisa dipenuhi ternyata tidak bisa diwujudkan. Parahnya, terkadang para pengelola pendidikan tidak menyadari akan hal itu,
Manajemen pendidikan merupakan suatu proses untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya pendidikan seperti guru, sarana dan prasarana pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, dsb untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Selasa, 22 Juni 2010

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

dalam Pencapaian Standar Nasional Pendidikan

yang Terkait dengan Pembelajaran Matematika

M. Salman A.N.

Kelompok Keahlian Matematika Kombinatorika

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Teknologi Bandung

Jl. Ganesa 10 Bandung 40132

email: msalman@math.itb.ac.id

Standar nasional pendidikan

Pendidikan nasional Indonesia harus sejalan dengan amanat pasal 31 UUD

Negara RI Tahun 1945 tentang Pendidikan dan Kebudayaan. Secara

operasional pelaksanaan pendidikan harus merupakan realisasi UU RI No. 20

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Oleh karena itu,

pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan

peningkatan mutu pendidikan nasional di tengah perubahan global. Melalui

pendidikan nasional setiap warga negara Indonesia diharapkan menjadi

manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,

cerdas, produktif, berdaya saing tinggi, dan bermartabat di tengah pergaulan

internasional. Dalam hubungan ini segala upaya perlu dilakukan agar

pelaksanaan pendidikan nasional dapat berhasil sehingga tujuan pendidikan

nasional dapat tercapai.

Dewasa ini terjadi perubahan paradigma pembelajaran dari yang berpusat

pada guru ke yang berpusat pada peserta didik. Pembelajaran yang berpusat

pada peserta didik menjamin terlaksananya pembelajaran bermakna. Para

peserta didik didorong membangun sendiri pemahamannya, dan guru

berperan sebagai fasilitator. Guru bukanlah satu-satunya sumber

pengetahuan bagi peserta didik. Sumber pengetahuan tersebut sesungguhnya

demikian banyak dan semuanya berada dalam lingkungan sekitar, sehingga

peserta didik dituntut lebih aktif dan kreatif dalam belajar.

Perubahan paradigma pembelajaran ini menuntut perubahan proses

pembelajaran dan hal lain termasuk yang berkaitan dengan sarana dan

prasarana. Sarana dan prasarana seyogyanya dirancang agar pembelajaran

yang berpusat pada peserta didik dapat terlaksana secara optimal. Pada

kenyataannya sebagian besar sarana dan prasarana pada berbagai jenis dan

jenjang pendidikan di Indonesia belum mendukung terlaksananya

pembelajaran yang diinginkan.

Kondisi saat ini menunjukkan banyak sekolah di Indonesia belum memiliki

sarana dan prasarana yang memadai baik dalam hal kuantitas maupun

kualitas. Permasalahan lain adalah masih adanya kesenjangan ketersediaan

sarana dan prasarana antar sekolah dan antar daerah. Atas dasar kenyataan

itu, ditetapkan standar minimum sarana dan prasarana sekolah-sekolah di

Indonesia dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 24 Tahun

2007. Diharapkan dengan adanya standar ini keberadaan sarana dan

2

prasarana mampu mendukung pembelajaran dalam rangka peningkatan mutu

pendidikan.

Standar sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu dari delapan

standar pendidikan yang disiapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan

(BSNP) berdasarkan amanat yang dituangkan dalam UU RI No. 20 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Standar lainnya adalah standar isi,

standar proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga kependidikan,

standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan

(lihat http://www.bsnp-indonesia.org/standards.php).

Standar kompetisi dan kompetisi dasar matematika

Pada abad ke-20 matematika telah membawakan suatu kegiatan intelektual

yang tingkat kecanggihannya sangat tinggi, meskipun matematika sendiri

tidak mudah untuk didefinisikan. Subjek yang sekarang dikenal sebagai

matematika pada awalnya merupakan hasil perkembangan terdahulu dari

konsep bilangan, pengukuran, dan bentuk. Secara sederhana, matematika

didefinisikan sebagai studi tentang besaran, dan keterkaitannya dengan

bilangan atau simbol. Dalam matematika dikenal berbagai subjek penting,

aritmetika, geometri, aljabar, kalkulus, probabiliti, statistik, dan banyak lagi

topik khusus dalam penelitian.

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan

teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan

memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang TIK dewasa

ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar,

analisis, teori peluang, dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan

mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang

kuat sejak dini.

Mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik untuk

membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis,

kritis, dan kreatif, serta mampu bekerjasama. Kompetisi tersebut diperlukan

agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan

memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu

berubah, tidak pasti, dan kopetitif.

Standar kompetisi dan kompetisi dasar matematika disusun sebagai landasan

pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain

itu, dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan

matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau

gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.

Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran

matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah

terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara

penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu

dikembangkan ketrampilan memahami masalah, membuat model

matematika, menyelesaikan masalah dan menafsirkan solusinya.

3

Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai

dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi. Dengan mengajukan

masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk

menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan

pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan TIK seperti komputer, alat

peraga, atau media lainnya.

TIK dan pembelajaran matematika

Memasuki abad ke-21, bidang TIK berkembang dengan pesat yang dipicu

oleh temuan dalam bidang rekayasa mikroelektronika. Perkembangan ini

berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan

aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada TIK. Perkembangan TIK

telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam

proses pembelajaran. Terjadi pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:

dari ‘ruang kelas’ ke ‘di mana saja’, dari ‘waktu siklus’ ke ‘waktu nyata’, dari

‘kertas’ ke ‘on line’, dan dari ‘fasilitas fisik’ ke ‘fasilitas jaringan kerja’.

Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan

tatap muka, tetapi dapat juga dilakukan dengan menggunakan media-media

komunikasi seperti telepon, sms, dan e-mail. Guru dapat memberikan layanan

tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula, siswa dapat

memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui

internet.

Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan internet

sebagai media utamanya mampu memberikan kontribusi yang demikian besar

bagi proses pendidikan. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi

terjadinya perubahan mendasar terhadap peran guru: dari informasi ke

transformasi.

Sebagai seorang professional, guru memiliki lima tugas pokok, yaitu

merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi

hasil pembelajaran, menindaklanjuti hasil pembelajaran, serta melakukan

bimbingan dan konseling. TIK tentunya dapat berperan pada kelima tugas

pokok tersebut.

Dalam pembelajaran matematika yang paling penting ditekankan adalah

ketrampilan dalam proses berpikir. Siswa dilatih untuk dapat mengembangkan

kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, dan konsisten. Untuk

membantu dalam proses berpikir tersebut, gambar dan atau animasi dapat

digunakan. TIK dapat berperan di sini. Dalam perencanaan pembelajaran

guru dapat memperkaya materi yang akan disampaikan dengan mengambil

beberapa contoh kontekstual yang ada di dunia maya dengan bantuan

internet.

Pada saat pelaksanaan pembelajaran, komputer dapat digunakan sebagai

media. Komputer bisa menyajikan media dalam bentuk grafis dan audiovideo.

Tentunya ini akan menambah daya tarik bagi siswa dalam belajar. Sifat

kemonotonan penyajian pada pengajaran ‘konvensional’ dapat dikurangi.

Pembelajaran matematika yang selama ini dianggap sangat ‘menakutkan’

4

tidak perlu terjadi karena prosesnya diberikan secara menarik dan

menyenangkan oleh guru mata pelajaran tersebut. Dengan bantuan beberapa

perangkat lunak beberapa konsep matematika seperti volume benda putar,

konsep limit, dan geometri dengan mudah dapat diterangkan dan bukti-bukti

matematika dapat disajikan dengan lebih menarik.

Dengan TIK, soal evaluasi dapat dengan mudah dibuat beragam. Soal-soal

dengan mudah dapat dikombinasikan untuk mendapatkan beberapa paket

soal. Ini tentunya akan membantu mengurangi kecurangan dalam

pengerjaannya. Walaupun soal dibuat beraneka ragam, dengan bantuan TIK

proses penilaian masih dapat dibuat cepat. Selanjutnya, dengan e-mail atau

jalinan komunikasi antara guru dengan siswa atau dengan orang tua siswa

dapat ditingkatkan. Jika terdapat masalah pada peserta pembelajaran, maka

akan cepat didiskusikan cara penyelesaiannya. Tentunya ini akan

meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu, guru atau siswa dengan

bantuan internet dapat dengan mudah untuk mendapatkan informasi

tambahan yang akan membantu memperkaya wawasan.

Kesimpulan

TIK dapat berperan dalam pembelajaran matematika. Guru dapat

memanfaatkan TIK dalam membantu pelaksanaan tugas pokoknya. Materi

pembelajaran dapat dibuat lebih menarik sehingga siswa akan lebih

termotivasi dalam belajar. Selain itu, siswa dan guru mudah mendapatkan

pengkayaan materi ajar sehingga akan meningkatkan pemahaman dan

penguasaan

Informasi Online dalam Dunia Riset dan Pendidikan

Informasi Online dalam

Dunia Riset dan Pendidikan

Abstrak

Informasi dan ilmu pengetahuan sampai pada kita lewat berbagai jalan. Pada zaman dahulu, papirus,batu tulis, tulang dan buku menjadi media utama tersampainya ilmu pengetahuan. Seiring dengan majunya teknologi, dewasa ini informasi mengalami perubahan format ke dalam bentuk digital. Ide yang dimuat dalam kertas mulai tergantikan menjadi versi elektronik. Kita memasuki era paperless.

Perubahan format ini membuka peluang besar bagi kemudahan akses informasi, apalagi dengan

membuatnya dapat diakses secara online. Dengan bermodal komputer, dewasa ini kita dapat

menjelajahi dunia cyber, yang kaya akan informasi. Berbagai penelitian berkesimpulan bahwa proses meng-online-kan informasi ini merupakan salah satu faktor penting yang mendorong pesatnya pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1. Pendahuluan

Internet pada awalnya dikembangkan oleh AS sekitar tahun 1970, dan semula

dipergunakan terbatas untuk keperluan militer. Tiga dasa warsa berlalu. Dewasa ini di

negara maju, internet hampir menjadi kebutuhan primer.

Layanan yang ditawarkan internet pun semakin lengkap, komunikatif dan memanjakan konsumen. Teknologi ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) yang populer beberapa tahun belakangan ini membuat internet menjadi barang yang tidak asing lagi di rumah-rumah, dan semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati akses internet 24 jam.

Pada masa awal, pemakaian internet hanya terbatas untuk berkirim electronic mail.

WWW (World Wide Web) mulai populer digunakan sekitar awal tahun 90-an, dengan

memakai berbagai web browser seperti Netscape, Internet Explorer, dsb. Seiring dengan perkembangan hardware maupun software yang pesat, materi yang disampaikan lewat web pun mengalami perkembangan. Materi yang dimuat tidak terbatas berupa teks,1 Disampaikan pada seminar “Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pendidikan dan Bisnis”.

Melainkan gambar, suara, video, streaming, hingga yang bersifat interaktif, seperti

chatting, video conference dsb. Hal ini dimungkinkan oleh kemajuan teknologi di

bidang hardware dan software. Sebagaimana yang diramalkan oleh Gordon Moore

(Moore’s Law), bahwa kemampuan komputer akan berlipat dua kali setiap 18 bulan.

Dapat dikatakan, informasi yang sampai kepada kita mengalami beberapa kali

perubahan format. Informasi dan ilmu pengetahuan yang semula didokumentasikan

pada papirus, tulisan pada batu, buku, dewasa ini telah banyak yang ditransfer ke dalam bentuk digital. Tulisan ilmiah, skripsi, telah umum disimpan dalam format elektronik(misalnya format Word, PDF, dsb.), pada disket, CD ROM atau pun DVD.

Karena bentuknya tipis, ringan, sangat mudah bagi kita untuk membawa informasi itu

kemana-mana.

Selanjutnya kemajuan yang dicapai oleh teknologi internet membuat

informasi tersebut dapat ditampilkan di web, atau dikirim lewat email, sehingga dapat

diakses dari berbagai penjuru dunia. Syaratnya hanya satu: asal tersambung ke dunia

cyber.

Dengan demikian, alur penyampaian ilmu pengetahuan dewasa ini melewati beberapa

tahap : 1) mengubah format-nya dari buku ke dalam bentuk digital 2) mengirimkannya dalam bentuk “bit”, deretan kode “0” dan “1”, lewat koneksi internet kepada berbagai pihak, yang mungkin berada di manca negara. Kata kunci bagian akhir proses ini adalah "online", yaitu tampilnya suatu informasi di dunia cyber, yang pada akhirnya turutmemberikan akselerasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Makalah ini akan membahas kontribusi signifikan informasi online terhadap dunia

pendidikan dan penelitian. Pada bagian ke 2, akan dibahas proses perubahan informasi ke arah digital, dan dilanjutkan dengan proses meng-online-kan informasi digital tersebut, yang akan dibahas pada bagian ke-3.

Pada bagian berikutnya, akan dibahas pengaruh signifikan pada dunia pendidikan dan penelitian yang dipacu oleh terbuka lebarnya akses informasi. Setelah membahas beberapa masalah yang dihadapi, bagian terakhir merangkum point-point penting dalam makalah ini.

2. Informasi pada era digital

Dewasa ini hampir seluruh aspek kehidupan kita tersentuh oleh digital. Berbeda dengan informasi analog yang sifatnya kontinyu, informasi digital dicirikan dari representasinya3 dalam bentuk diskontinyu.

Contoh yang paling mudah perubahan dari analog menjadi digital adalah jam. Jam analog memiliki jarum yang berputar secara kontinyu, dapat menunjukkan waktu pada resolusi berapa pun.

Sedangkan jam digital hanya mampu menunjukkan waktu-waktu pada ketelitian terbatas, misalnya pada satuan detik. Lagu dan film yang dahulunya diabadikan dalam piring hitam atau pita kaset, dewasa ini lazim disimpan dalam bentuk digital pada media CD atau DVD. Informasi digital hampir tidak dapat terlepas lagi dari kehidupan kita sehari-hari [1].

Sebagaimana contoh di atas, dewasa ini buku, data observasi dan dokumentasi penelitian juga telah lazim ditransfer ke dalam bentuk digital.

Keuntungan informasi disajikan dalam bentuk digital antara lain sbb.

1. Kompresi data

Ini adalah kelebihan terbesar dari bentuk digital. Sebuah CD ROM yang

kapasitasnya 700 MB dapat memuat buku dengan ketebalan lebih dari 4 ribu

halaman. Dapat dibayangkan berapa besar tempat yang dapat dihemat oleh sebuah

perpustakaan, apabila literatur nya berupa file elektronik.

Contoh lain: portable harddisk Logitec LHD-PBA20U2 berukuran 7.6 x 1.5 x 13 cm,

berat sekitar 180 gram, kapasitas sekitar 20GB. Harddisk sebesar telapak tangan ini

dapat memuat buku lebih dari 100 ribu halaman dalam format pdf, atau kira-kira

sama dengan 151 jilid kamus bahasa Inggris-Indonesia, tiap jilid setebal 660

halaman, total berat 151 kg, yang kalau disusun berjajar membutuhkan ruang

sepanjang 6m.

2. Portabilitas

Data yang telah dikompresi akan berukuran jauh lebih kecil daripada aslinya. Akan

lebih ringan dan lebih mudah membawa sebuah CD ROM daripada membawa

informasi dalam bentuk buku.

Pada ilustrasi di atas lebih mudah untuk membawa hard disk portable Logitec yang beratnya hanya 180 gram dan bisa dimasukkan ke saku, padahal isinya sama dengan buku dalam 1 almari di perpustakaan. . Mudah untuk di-edit, diolah dan ditransfer ke media lain

Di masa lampau kita memerlukan penghapus, stypo, tip ex, untuk melakukan

koreksi tulisan. Jika tulisan berada dalam format elektronik, kita akan sangat mudah

melakukan koreksi, menambahkan baris, mengatur lay out tulisan.

Proses transfer pun menjadi lebih mudah. Jika dahulu kita harus memakai mesin

fotocopy untuk membuat salinan suatu artikel atau buku, saat ini kita telah terbiasa

mengcopy dokumen dalam bentuk file elektronik ke dalam disket, atau ke dalam

harddisk komputer.

3. Dari Offline menuju Online

Berbagai macam kelebihan dapat kita peroleh jika informasi disajikan berupa digital.

Buku yang berjilid-jilid dapat disimpan dalam bentuk file yang cukup dimuat dalam

sekeping CD ROM.

Proseding seminar yang dulu biasa dibagikan dalam bentuk cetak

dan beratnya kadang bisa sekitar 5 kg, saat ini lebih populer dibagikan dalam bentuk

CDROM. Akan tetapi informasi seperti ini masih tersedia dalam bentuk offline, yaitu

tidak terkoneksikan ke internet.

Kalau ada kolega kita di kota lain yang memerlukan data tersebut, mau tidak mau kita harus memakai jasa pos untuk mengirim CDROM tersebut. Tidakkah ada jalan lain yang lebih mudah untuk mentransmisikan informasi tersebut ?

Sebagaimana dijelaskan, kelebihan informasi digital adalah “kompresi” dan kemudahan untuk ditransfer ke media elektronik lain. Kelebihan ini dimanfaatkan secara optimal oleh teknologi internet, misalnya dengan menaruhnya ke suatu website atau umumnya disebut dengan meng-upload. Cara seperti ini disebut membuatnya online di dunia cyber.

Pengiriman informasi dalam CD ROM yang tadinya harus dikirimkan lewat pos,

sekarang telah dapat dilakukan secara elektronik, sehingga jauh lebih cepat. Buku yang berada di perpustakaan di Jepang, apabila dibuat dalam bentuk digital dan ditaruh di harddisk komputer yang tersambung internet, dapat langsung dinikmati oleh pelajar dan masyarakat di Indonesia. Saat saya masih mahasiswa, apabila membutuhkan suatu artikel ilmiah yang ditulis oleh professor di AS, perlu memesan ke perpustakaan dan harus menunggu, kadang berminggu-minggu, sampai artikel tersebut dapat diperoleh.

Saat ini proses mencari literatur menjadi jauh lebih mudah. Kita cukup online ke

internet, dan mendownload file tersebut dari situs yang menyediakan artikel yang

dimaksud. Kadang-kadang penulis artikel itu menaruh artikel di websitenya, agar

mudah diakses oleh peneliti lain.

Dengan kata lain, cara mengirimkan CDROM lewat pos adalah konvensional, yaitu

memindahkan “atom” dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan cara kedua dengan

mengonlinekan isi CDROM tersebut di internet, berarti mentransmisikan informasi

berupa bit dari satu terminal komputer ke yang lain.

Secepat-cepatnya kita mengirim barang, misalnya dengan Fedex atau EMS, dari Jepang ke Indonesia memerlukan waktu sekitar tiga hari. Akan tetapi proses transmisi bit pada koneksi internet jauh lebih cepat.

Dari Indonesia kita dapat mendownload suatu file di perpustakaan digital di Amerika

hanya dalam satuan detik.Dapat disimpulkan bahwa meng-online-kan suatu informasi berarti melakukan potong kompas terhadap jarak dan waktu: dua buah dimensi yang selama ini sangat membatasi aktivitas manusia. Informasi online membuat akses semakin luas, dan transfer informasi semakin cepat dan akurat.

4. Akses informasi online dalam dunia penelitian dan pendidikan

Komunitas akademik dewasa ini telah terbiasa melakukan komunikasi lewat internet.

Diskusi, pengiriman artikel, pemesanan buku, pengiriman data observasi, dan berbagai aktifitas lain dapat dilakukan dari sebuah PC yang terkoneksikan ke internet.

Akses informasi yang dapat dilakukan kapan saja, siapa saja, di mana saja ini, telah

memberikan kontribusi signifikan terhadap berkembangnya ilmu pengetahuan.

Perpustakaan merupakan sumber literatur utama bagi seorang peneliti untuk mengikuti perkembangan bidang yang ditekuninya.

Sebagian besar waktu dihabiskan untuk membaca journal ilmiah, laporan penelitian, prosiding seminar, yang tersedia dalam bentuk buku, disimpan di perpustakaan. Hal yang paling sulit adalah bagaimanamemilih informasi yang diperlukan di antara ribuan atau jutaan halaman yang tersedia, padahal waktu yang ada sangat terbatas.

Masalah ini dapat dipecahkan apabila journal, laporan, buku dan informasi lain yang

dicari tersebut berada dalam format elektronik (misalnya format PDF, Word, postscript dsb.), sehingga dapat diakses online melalui internet. Misalnya situs journal IEEE(http://www.ieee.org), PubMed, dll. Dengan adanya sumber online, peneliti lebih mudah mencari literatur dan informasi terbaru dalam bidangnya.

Ada layanan yang mempermudah memilih informasi online yang diperlukan, yaitu

searching engine di internet. Yang sangat populer adalah http://google.com dan

http://yahoo.com. Situs searching engine lain seperti http://vivisimo.com memiliki

kelebihan, dengan mengelompokkan hasil searching ke dalam beberapa group (cluster), menurut kata kunci pada situs tersebut. Tersedianya informasi di internet dan semakin canggihnya alat pencari membuat peneliti menjadi lebih cepat dalam mencari informasi yang diperlukannya.

Apakah efek kemudahan mendapatkan informasi di intenet ? Salah satu penelitian

menarik dilakukan oleh Steve Lawrence, yang dimuat di journal penelitian terkemuka

Nature [2] memberikan kesimpulan bahwa frekuensi rujukan terhadap artikel yang

dimuat online (ditampilkan di internet), ternyata lebih banyak daripada artikel yang

dimuat secara offline (tidak ditampilkan di internet).

Lawrence mengamati sekitar 120 ribu artikel ilmiah di bidang komputer, yang dipublikasikan dari tahun 1989 sampai 2000. Data menunjukkan bahwa artikel yang ditampilkan secara online rata-rata 7.03 kali dijadikan rujukan oleh penelitian lain, sedangkan artikel offline hanya sekitar 2.74.

Fakta ini membuat Lawrence berkesimpulan, bahwa peningkatan kemampuan akses

terhadap suatu paper meningkatkan kesempatan bagi peneliti lain untuk menemukan

informasi yang diperlukan. Hal ini akan berdampak nyata pada berkembangnya suatu

disiplin ilmu.

Contoh lain adalah tersedianya data hasil observasi di internet agar dapat dimiliki

bersama. Misalnya sebagaimana yang lazim dilakukan dalam bidang bioinformatika.

Bioinformatika merupakan bidang baru yang merupakan perkawinan antara biologi dan teknologi informasi. Dalam hal ini, istilah “teknologi informasi” tidak terbatas pada internet saja, melainkan pada proses pengolahan informasi secara umum.

Dengan demikian aspek teknologi informasi dalam bioinformatika melibatkan juga teknologi database, pattern recognition, softcomputing, expert system, kecerdasan buatan, dsb.

Dewasa ini, seiring dengan selesainya Human Genome Project, susunan DNA tubuh

manusia telah dapat dipetakan. Dalam era post genome project ini minat penelitian

ditujukan untuk menemukan fungsi dari gen pada tubuh manusia, dan aplikasinya pada

dunia medis. Misalnya pemilihan terapi penyakit yang tepat bagi individu, yang sering disebut dengan tailormade medicine. Artikel ilmiah maupun data yang dipakai dalam penelitian tsb. umumnya tersedia secara online, dan dapat diakses oleh peneliti yang lain.

Dengan demikian terbuka kesempatan bagi anggota komunitas bioinformatika yang lain untuk membahas dan menganalisa data sesuai dengan spesialisasi masing-masing. Hal ini turut mendorong ditemukannya metoda-metoda komputasi baru yang menjadi

feedback positif bagi peneliti tersebut.

Dari contoh-contoh di atas dapat dirangkumkan bahwa usaha meng-online-kan

informasi memiliki beberapa manfaat penting, antara lain:

1. Artikel ilmiah yang dimuat secara online, memiliki potensi akses yang lebih besar

dan lebih sering dipakai sebagai rujukan

2. Semakin luasnya kesempatan akses pada suatu informasi, pada gilirannya dapat

memberikan feedback positif bagi pemilik awal informasi tersebut

3. Data dan informasi yang dimuat secara online dapat membantu akselerasi

perkembangan suatu cabang ilmu pengetahuan baru.

5. Usaha yang dilakukan oleh komunitas TI Indonesia

Usaha meng-online-kan informasi penelitian ini tidak hanya dilakukan oleh negara maju. Komunitas TI Indonesia tidak ketinggalan dalam memanfaatkan teknologi internet untuk meng-online-kan informasi dalam dunia penelitian. Beberapa usaha yang telah dilakukan antara lain:

1. Edukasi online

Aktifitas yang sering disebut dengan e-learning ini memanfaatkan internet sebagai

wahana belajar mengajar. Beberapa di antaranya adalah situs berita iptek

(http://beritaiptek.com) yang memuat berita ilmu pengetahuan dan teknologi dalam

bahasa Indonesia, situs ilmukomputer.com yang mendapat penghargaan

internasional WSIS award dari PBB, dan situs-situs lain yang belakangan ini

semakin menjamur.

2. Digital Library

Salah satu contoh adalah http://www.greendigitalpress.com. Usaha ini dirintis oleh

Arief Budi Witarto dan Romi Satria Wahono, keduanya peneliti di LIPI. Ide awal

proyek ini berasal dari keinginan mewujudkan perpustakaan digital Indonesia, yang

dapat diakses online di internet.

Contoh dari situs serupa di dunia adalah situs PubMed (http://www.pubmed.com) di bidang biomedik, atau situs CiteSeer.IST (http://citeseer.ist.psu.edu) di bidang komputer, yang menyediakan ribuan artikel ilmiah dalam format elektronik (format PDF) kontribusi dari seluruh dunia. Situs digital library Indonesia ini memuat abstrak publikasi khusus di Indonesia (paper & paten). Hal ini akan memberikan kemudahan akses bagi peneliti lain dan mempercepat proses komunikasi komunitas ilmiah Indonesia.

3. Diskusi ilmiah lewat mailing list (disingkat milis)

Mailing list adalah forum diskusi yang berlangsung lewat electronic mail. Beberapa

komunitas ilmiah seperti IECI (Indonesian Society on Electrical, Electronics,

Comunication & Information), HFI (Himpunan Fisika Indonesia),

Biotek-indonesia.net telah memiliki forum diskusi sendiri. Pada milis yang aktif,

secara reguler diadakan seminar online. Salah satu peserta mempresentasikan

penelitiannya, dan peserta yang lain mengajukan pertanyaan atau memberikan

masukan, lewat email. Selain presentasi penelitian, konsultasi masalah, kegiatan lain

misalnya resensi paper penelitian yang terbaru.

6. Masalah yang timbul saat meng-online-kan informasi

Semakin banyaknya informasi tersedia secara online, memberikan efek positif bagi

kegiatan bisnis, pendidikan dan penelitian. Namun hal ini tidak terlepas dari berbagai

kendala yang perlu diwaspadai oleh pengguna internet.

1. Sekuriti

Masalah utama pemakai internet adalah sekuriti. Serangan virus, spamming mail

merupakan ancaman pertama begitu kita online di internet. Virus dapat menghapus

data di hard disk, merusak file penelitian dan mencuri informasi pribadi.

2. Hak cipta

Tulisan ilmiah yang dibuat online seringkali dijiplak oleh pihak lain tanpa seijin

pemiliknya. Kalimat-kalimat pada suatu artikel dikutip tanpa menyebutkan referensi

asalnya. Ada juga pihak tak bertanggung jawab yang memakai material di internet,

tapi menghapus nama pengarangnya, atau sumber asli artikel tersebut. Seolah-olah

artikel itu adalah karyanya sendiri. Hal-hal ini dapat dikategorikan kejahatan

intelektual, dan merugikan penulis asli tulisan tersebut.

3. Kendala teknis untuk artikel yang hanya tersedia versi cetak

Tidak semua journal tersedia dalam bentuk elektronik. Terutama untuk artikel yang

diterbitkan sebelum tahun 1990, seringkali hanya tersedia versi cetak. Misalnya

journal ilmiah IEEE Trans.

On Pattern Analysis and Machine Intelligence (PAMI), kalau dilihat di situs http://www.computer.org/tpami hanya menyediakan versi elektronik mulai tahun 1988. Artikel-artikel yang sudah tua juga masih tersedia dalam wujud “atom”, yaitu berupa kertas. Tapi dewasa ini, sudah banyak dijual scanner yang mampu men-scan satu halaman dokumen dalam waktu kurang dari 1 detik, dan langsung dikonversikan ke format PDF. Misalnya “ScanSnap” produk

Fujitsu, yang sudah termasuk di dalamnya software Adobe Acrobat untuk

mengkonversikan hasil scan ke dalam format PDF.

Selain masalah tersebut masih banyak hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam

meng-online-kan informasi. Resiko memang ada. Tapi hal itu memang harus kita lewatiuntuk mencapai kemajuan. No risk, No gain.

7. Kesimpulan

Makalah ini membahas mengenai pengaruh positif dari informasi online. Berbagai

penelitian menunjukkan adanya kontribusi signifikan dari informasi online terhadap

akselerasi penelitian iptek.

Hal ini ditunjukkan antara lain oleh tingginya frekuensi rujukan paper ilmiah online dibandingkan paper yang tidak dapat diakses online, cepatnya perkembangan bidang bioinformatika yang memanfaatkan internet secara optimal untuk bertukar data dan hasil observasi. Walaupun pada pelaksanaannya masih ada kelemahan dan kendala dalam hal sekuriti, hak cipta dll. tetapi proses meng-online-kan informasi ini merupakan etape yang harus kita lalui untuk memajukan pendidikan dan riset di Indonesia.

Referensi

[1] Nicholas Negroponte, Being Digital, Random House (1996)

[2] Steve Lawrence, “Online or Invisible”, Nature, Vol.411, No.6837, pp.5221, 2001

versi online dapat diakses di http://citeseer.ist.psu.edu/online-nature01/

Anto Satriyo Nugroho

Alumni SMAN 1 Surakarta th.1989. Anggota tim IMO

XXX di Braunscweig, Jerman, 1989. Pendidikan S1

(B.Eng), S2 (M.Eng) dan S3 (Dr.Eng) diselesaikan pada

tahun 1995, 2000 dan 2003, di Dept. of Electrical &

Computer Engineering, Nagoya Institute of Technology,

Japan, atas beasiswa STMDP-II dan Monbukagakusho.

Bekerja di Pusat Pengkajian & Penerapan Teknologi

Informasi & Elektronika (P3TIE), BPP Teknologi, Jakarta. Saat ini ditugaskan ke

Jepang untuk kerjasama penelitian, dan berstatus sebagai visiting professor pada School

of Life System Science & Technology, Chukyo University, Japan. Tema penelitian yang

dilakukan saat ini adalah analisa informasi dimensi tinggi dan aplikasinya pada

bioinformatika. Anggota organisasi ilmiah IEEE, IEICE, IECI, ISTECS, ISCB, IPSJ dan

JSBI.

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”

DI SUSUN OLEH :

IRWAN JAYA ,S.Pd

NIP 510 156 631

UNIT KERJA

SMKN 1 PAMEKASAN

PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SMK NEGERI 1 PAMEKASAN

Jalan Pintu Gerbang 157 Telp. (0324) 322355 Fax. 328409

PAMEKASAN 69316

KATA PENGANTAR

Dengan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa kami panjatkan karena berkat

dan petunjuknya kami dapat menyusun Makalah dengan judul “.KETERAMPILAN

DASAR MENGAJAR KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK”

Makalah ini merupakan bahan kajian mengenai suatu sistem untuk

menghasilkan informasi berkenaan dengan tersebut dapat digunakan dalam

rangka Pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum Tiingkat Satuan

pendidikan pada setiap sekolah..

Dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dewasa ini di perlukan

beberapa metode dalam pembelajaran Bidang studi IPA yang tidak terlepas

dengan penguasaan atau media yang menggunakan Teknologi dan Informatika..

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu penyusunan makalah, semoga dapat meningkatkan hasil proses

belajar-mengajar yang maksimal dan upaya peningkatan mutu sumber daya

manusia melalui sekolah menengah kejuruan akan benar-benar mencapai

sasaran.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih ada

kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun

sangat kami harapkan untuk memperbaiki penerbitan berikutnya.

Hormat kami

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

Bab I Pendahuluan 1

A. Latar Belakang 1

B. Tujuan 1

C. Ruang Lingkup 1

Bab II KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR BIDANG STUDI IPA 4

A. Hakekat Pengajaran Sains dengan menggunakan TIK 4

B. Keterampilan Mengajar Demonstrasi 7

C. Keterampilan Mengajar Eksperimen Dengan Menggunakan TIK 11

Bab III Penutup 15

Daftar Pustaka 16

Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Saat ini sedang dikembangkan paradigma baru kurikulum pendidikan dasar

dan menengah dimana kini guru diharapkan hanya sebagai fasilitator dalam

proses belajar mengajar, dengan pembelajaran yang lebih realistik dan aplikaif

khususnya bidang pelajaran IPA, Oleh karena itu perlu dikermbangkan materi

Keterampilan Dasar Pembelajaran IPA yang berbasis TIK yang aplikatif dan

realistik, untuk lebih memudahkan tercapainya keberhasilan proses

pembelajaran IPA dengan paradigma baru tersebut.

B. Tujuan

Tujuan penulisan makalah Pembelajaran IPA ini untuk menghasilkan suatu

bahan ajar kepada siswa yang mengikuti teknologi komputer seiring dengan

perkembangan jaman..

C. Ruang Lingkup

Keterampilan dasar IPA ini oleh penulis ini di terapkan pada sekolah kejuruan

yang merupakan basis dari praktek pendidikan yang menuntut skill dan

keterampilan pada praktek IPA yang digabaung dengan pemakaian teknologi

Komputer.

BAB III

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

BIDANG STUDI IPA

Keterampilan Dasar Mengajar I, Keterampilan Dasar Mengajar II,

Keterampilan Dasar Mengajar III merupakan keterampilan dasar mengajar yang

perlu dimiliki oleh guru dari semua bidang studi. Jika dipertimbangkan bahwa

bidang-bidang studi yang ber-macam-macam mempunyai ciri-ciri pengajaran

yang khas, keterampilan mengajar untuk bidang-bidang studi khusus perlu

dikembangkan. Perkembangan dunia pendidikan menggunakan program

Komputer saat ini menyebabkan kekhasan ciri pengajaran dari masing-masing

studi makin tampak, dan perbedaannya dengan pengajaran bidang studi lain

makin nyata.

A. Hakekat Pengajaran Sains dengan menggunakan TIK

Pemahaman orang terhadap hakekat sains, hakekat belajar dan

pembelajaran dengan mengunakan TIK yang semakin luas membawa banyak

perubahan dalam dunia pembelajaran sains. Pemahaman terhadap sains

dengan mengunakan TIK telah berkembang dari pemahaman bahwa sains

sebagai produk produk sains (a body of knowledge) menjadi: sains sebagai cara

berpikir dan bertindak (Science as a way of thinking and acting), sains sebagai

keterampilan proses sains (Science is process science skills), sains sebagai

proses penyelidikan ilmiah (Science as a way of investigating). Perubahan

pemahaman terhadap hakekat sains tersebut, secara konseptual, pandangan

orang terhadap pendidikan sains semakin mengarah pada makna yang hakiki

dari belajar dan pembelajaran sains. Makna hakiki dari belajar dan pembelajaran

sains adalah pendidikan sains lebih diartikan sebagai pembentukan kompetensi

anak didik melalui peningkatan motivasi dan aktivitas diri siswa (competencebased

learning) daripada pembekalan pengetahuan melalui transfer

pengetahuan dari guru ke siswa (knowledge-based learning). Sebagai contoh,

digunakannya pendekatan keterampilan proses sains dalam kurikulum 1984 dan

1994 di SD, SLTP dan SMU di Indonesia menandakan bahwa pendidikan di

sekolah-sekolah tersebut menekankan terbentuknya keterampilan proses sains

pada diri siswa daripada pemberian bekal pengetahuan keilmuan melalui

konsep-konsep yang diajarkan oleh guru. Lebih dari itu, jika pada akhir-akhir ini

para ahli pendidikan sains mengembangkan pendekatan-pendekatan baru

(misalnya pendekatan konstruktivisme dan pendekatan STS) maka mereka

menganjurkan agar dalam pendidikan sains para siswa lebih banyak diberi

kesempatan belajar dalam lingkungan yang memberdayakannya untuk

membangun sendiri konsep-konsep sains selaras dengan taraf perkembangan

dan kebutuhannya, sesuai dengan latar belakang kondisi masyarakat dan

lingkungan hidupnya.

Kalau memperhatikan kecenderungan para ahli pendidikan sains untuk

menganjurkan digunakannya pendekatan-pendekatan pembelajaran yang

mendorong terbentuknya lingkungan belajar konstruktivisme, pembelajaran sains

di sekolah tampaknya perlu menggunakan metode-metode pembelajaran yang

dapat mengaktifkan siswa untuk membangun pemahamannya tentang alam

semesta dan lingkungan sekitar dengan menggunakan keterampilan proses

sains. Metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran

sains yang bersifat konstruktivisme terutama adalah metode eksperimen, metode

demonstrasi, metode karya wisata, dan metode proyek. Namun, metode-metode

tersebut menjadi lebih efektif kalau disertai dengan metode-metode yang lain,

misalnya: metode diskusi, metode simulasi.

Perkembangan tersebut perlu diikuti dengan pembentukan atau

peningkatan keterampilan mengajar guru dalam menerapkan metode-metode

pembelajaran tersebut di atas. Keterampilan dasar mengajar untuk pembelajaran

dengan metode-metode khusus bidang studi sains (ilmu pengetahuan alam)

akan meningkatkan intensitas pembelajaran komputer , mungkin bukan hanya

kompetensi dibidang sains, melainkan juga kompetensi di berbagai aspek

kehidupan manusia.

B. Keterampilan Mengajar Demonstrasi

1. Prinsip-prinsip Mengajar dengan Demonstrasi yang menggunakan TIK

Demonstrasi merupakan suatu metode mengajar yang sering digunakan

dalam pembelajaran sains. Demonstrasi dengan menggunakan Komputer untuk

memperagakan:

1. cara menggunakan alat, misalnya: cara menggunakan stetoskop.

2. prinsip dan prosedur kerja suatu alat, misalnya: prinsip kerja mesin pengolah

tebu menjadi gula.

3. prosedur pelaksanaan percobaan/eksperimen, misalnya: prosedur percobaan

untuk menguji adanya karbohidrat dalam tepung.

4. fenomena alam dalam rangka pemahaman suatu konsep atau prinsip sains,

misalnya: fenomena tentang nyala dua bola lampu listrik yang dipasang

secara seri atau paralel.

5. merangsang siswa untuk menemukan masalah dan membimbing siswa untuk

memecahkan masalah.

Dalam pembelajaran sains yang mnebggunakan TIK , demonstrasi dapat

memberikan fasilitas kepada siswa untuk meningkatkan keterampilan proses

sains, dan mealkukan inkuari ilmiah, antara lain:

1. meningkatkan keterampilan mengamati, dan rasa ingin tahu,

2. memberi inspirasi untuk meningkatkan keterampilan memprediksi, inferensi,

dan komunikasi.

3. meningkatkan kejelian terhadap adanya masalah.

4. memberi arah untuk menemukan atau menyusun hipotesis.

5. memberi inspirasi untuk merancang investigasi.

Demonstrasi dengan mengunakan komputer meliputi kegiatan

memamerkan dan menjelaskan (pada pihak guru), mengamati dan mereplikasi

(pada pihak siswa). Demonstrasi menjadikan bahan ajar lebih konkret dan lebih

nyata bagi siswa, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk

menyaksikan atau mengalami kejadian atau keterampilan nyata sambil

memperhatikan penjelasan.

Demonstrasi dapat digunakan sebagai metode pembelajaran yang berdiri

sendiri dalam suatu proses belajar mengajar, atau dapat digunakan bersamasama

dengan metode lain dalam suatu kombinasi multimetode. Penerapan

demonstrasi sebagai metode yang berdiri sendiri dalam suatu proses belajar

mengajar dapat dijalankan dengan mengikuti prosedur yang diusulkan oleh Joice

and Well dalam Louisell (1992). Ia membagi prosedur demonstrasi menjadi lima

tahap.

1. Pembukaan.

2. Menyajikan pengetahuan prasyarat atau rasional.

3. Menampilkan model penampilan dengan benar. Tahap ini merupakan tahap

pelaksanaan demonstrasi, dan pada tahap ini guru dituntut untuk melakukan

tiga hal:

a. Mempelajari dan menguasai konsep dan keterampilan yang akan

didemonstra-sikan,

b. Memecah-mecah konsep atau keterampilan menjadi komponenkomponen

lebih kecil dan mengaturnya dalam urutan belajar yang sesuai,

c. Menjalankan langkah-langkah demonstrasi tahap demi tahap (untuk ini

perlu dibuat persiapan tertulis).

4. Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih dalam kondisi terkontrol.

5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mentransfer pengetahuan dan

pengalaman-nya ke situasi yang kompleks.

Jika dipadukan dengan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan

awal, inti dan penutup, tahap-tahap demonstrasi itu dapat diuraikan sebagai

berikut.

Tahap-Tahap Demonstrasi dengan menggunakan TIK (Joice and Well, dalam

Louisell, 1992)

Tahap

pembelajaran

Tahap Demonstrasi Keterangan

Pembukaan. Membangkitkan motivasi

kepa-da siswa.

Awal

Menyajikan pengetahuan

prasyarat atau rasional. Lewat

media pembelajaran Komputer

Menggali pengetahuan awal

sis-wa, bisa kemampuan

prasyarat atau pengetahuan

awal tentang konsep yang

dipelajari.

Pelaksanaan demonstrasi. Penyajian, penjelasan

konsep.

Inti

Memberi kesempatan pada

siswa untuk berlatih dalam

kondisi terkon-trol.

Kegiatan latihan siswa untuk

merefleksikan materi yang

telah didemonstrasikan:

mencatat da-ta yang ada di

Komputer , menganalisis

data, dan pena-rikan

kesimpulan. Bila diperlu-kan

siswa diberi kesempatan

untuk mengulang

demonstrasi.

Penutup Memberi kesempatan kepada

siswa untuk mentransfer

pengetahuan yang di dapat dari

Komputer dan pengalamannya

ke situasi yang kompleks.

Kegiatan pemantapan: tugas

ru-mah, proyek, dll.

Jika demonstrasi digunakan dalam proses pembelajaran yang

menggunakan Program komputer sebagai kombinasi metode di antara metode

yang lain, pelaksanaan demonstrasi dapat ditempatkan pada awal, inti atau

penutup pelajaran. Jika ditempatkan pada awal pelajaran, demonstrasi

dimaksudkan untuk membangkitkan motivasi belajar, memberi kesempatan

kepada siswa untuk mengeksplorasi fenomena dan masalah, serta menggali

pengetahuan awal siswa tentang konsep yang sedang dipelajari. Pada inti

pelajaran demonstrasi bermanfaat untuk menunjukkan fakta, atau menjelaskan

konsep atau prinsip. Pada akhir pelajaran demonstrasi dapat digunakan untuk

menilai hasil belajar siswa; penilaian ini merupakan penilaian terhadap

pengalaman langsung siswa, dan cocok untuk menilai kemampuan keterampilan

proses sains. Dalam pelaksanaannya, selama atau sesudah demonstrasi siswa

diberi pertanyaan tentang hal-hal yang tampak atau mungkin tampak.

2. Keterampilan Khusus Berdemonstrasi

Secara umum demosntrasi dalam proses pembelajaran dimaksudkan

untuk meningkatkan keefektifan tercapainya tujuan pengajaran. Demonstrasi

dapat dilaksanakan sebagai satu metode dalam satu proses pembelajaran

menggunakan Komputer , atau sebagai salah satu metode dalam suatu perose

pembelajaran. Demonstrasi dapat disajikan di awal pelajaran, dengan tujuan

untuk menyajikan fenomena, menggali pengetahuan awal siswa, dan memotivasi

belajar siswa. Maka dari itu, guru perlu menguasai kecakapan dan keterampilan

berdemon-strasi.

a. Prademonstrasi

1) Memahami tujuan demonstrasi. Dalam pembelajaran konstruktivisme,

tujuan khusus demonstrasi ada dua macam: (1) demonstrasi pada awal

pelajaran bertujuan untuk menampilkan fenomena yang menimbulkan konflik

kognitif, (2) demonstrasi pada pengajaran inti bertujuan untuk menyajikan fakta

atau data, untuk memecahkan masalah, (3) demonstrasi pada akhir pelajaran

untuk memberi gambaran mengenai aplikasi konsep.

2) Mengenali fakta atau informasi esensial dari konsep yang akan

didemonstrasikan. Fakta atau informasi esensial inilah yang perlu dijadikan fokus

amatan oleh siswa ketika demonstrasikan.

3) Merancang bahan atau kegiatan untuk demonstrasi. Yang dimaksud disini

adalah menerjemahkan informasi verbal pada konsep materi pelajaran menjadi

informasi yang dapat divisualisasikan dalam demonstrasi.

4) Merancang prosedur pelaksanaan demonstrasi. Lihat Tabel 5.1.

Disamping prosedur sebagaimana dikemukakan pada Tabel 5.1, hal yang perlu

dirancang adalah urut-urutan penyajian demonstrasi jika informasi yang akan

ditampilkan merupakan beberapa seri informasi. Urutan seri informasi perlu

dirancang.

b. Pelaksanaan Demonstrasi

1) Menjalankan demonstrasi dengan lancar dan benar, agar informasi yang

dimunculkan benar sesuai dengan yang direncanakan.

2) Menampilkan fenomena secara atraktif, khususnya fenomena-fenomena yang

diharapkan dapat menimbulkan konflik kognitif pada siswa. Lewat program

komputer Demonstrator dapat melakukan trik-trik untuk mengkonflikkan pikiran

siswa dengan fenoman yang teramati. Ketika pejetan dilepaskan pelan-pelan

sambil menurunkan botol ke meja, akan tampak seolah-olah turunnya tabung

reaksi karena botol diturunkan. Pada hal, tabung reaksi tenggelam ketika botol

dipejet karena volume air yang masuk ke dalam tabung reaksi bertambah,

sebaliknya volume air di dalam tabung reaksi berkurang ketika pejetan

dilepaskan. Itulah yang disebut konflik kognitif. Atraksi seperti itu sangat menarik,

layaknya bermain sulap.

3) Penampilan demonstrasi dapat diulang, untuk memperbanyak sampel

pengamatan.

4) Mengatur posisi peralatan, sampai demonstrasi dapat diamati dengan

jelas oleh semua anggota kelas.

c. Pasca Demonstrasi

1) Kesenyapan. Setelah demonstrasi berakhir, guru diam beberapa saat

untuk menunggu respons dari siswa, mungkin (sampai) ada siswa yang

mengajukan masalah dari fenomeda yang diamati. Jika respons tidak muncul,

masalah dapat diajukan sendiri oleh guru.

2) Berdiskusi atau melakukan demonstrasi lanjutan, untuk mengajak siswa

mengajak siswa menemukan jawaban atas masalah yang dikemukakan.

C. Keterampilan Mengajar Eksperimen Dengan Menggunakan

TIK

1. Prinsip-Prinsip Pengajaran Eksperimen

Eksperimen merupakan bagian sangat penting dalam pembelajaran

sains, kerena hal eksperimen itulah yang membedakan sains yang mengunakan

Komputer dengan mata pelajaran lain. Metode eksperimen dapat digunakan

untuk melatih siswa dalam melakukan studi alamiah yang menggunakan

langkah-langkah metode alamiah, yang meliputi: observasi, penemuan masalah,

penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Karena

dalam pelaksanaan eksperimen itu banyak keterampilan proses yang perlu

digunakan, maka metode ini merupakan strategi yang penting untuk

membelajarkan keterampilan proses kepada siswa, terutama keterampilan

proses terintegrasi.

Metode eksperimen sangat khas untuk membelajarkan prinsip atau

generalisasi hubungan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

Sehubungan dengan penjelasan ini, metode eksperimen dapat dibagi menjadi

eksperimen sederhana, eksperimen terkontrol, dan eksperimen berujung-terbuka

(open-ended experimen) (Thurber dan Collete, 1968). Dengan adanya

pembagian ini, guru tidak perlu khawatir bahwa pelaksanaan eksperimen di kelas

sains yang mnenggunakan TIK akan memakan waktu banyak, pelaksanaannya

rumit dana adanya kesulitan yang lain.

a. Eksperimen sederhana

Banyak masalah IPA yang dapat dipecahkan dengan eksperimen

sederhana, sehingga tidak memerlukan tahap-tahap kerja yang terpisah untuk

menyelesaikannya. Langkah dari eksperimen sederhana itu adalah: 1)

pengajuan masalah, 2) pelaksanaan percobaan untuk pengamatan, dan 3)

pengambilan kesimpulan. Dalam eksperimen sederhana ini tidak perlu dilakukan

pengontrolan terhadap variabel-variabel bebas yang tidak dipelajari, karena

pengaruhnya terhadap variabel terikat dapat diabaikan atau memang tidak ada

variabel lain yang berpengaruh kecuali variabel yang sedang dipelajari.

Sebagai contoh, masalah yang akan dipecahkan adalah: “Apakah tepung

beras mengandung amilum?” Masalah itu cukup dipecahkan dengan percobaan,

yang dilakukan dengan meneteskan larutan YKY (yodium) pada tepung beras,

kemudian mengamati bahwa zat tersebut berubah warna biru. Untuk mengambil

kesimpulan, siswa cikup diminta untuk melakukan 2-3 kali percobaan, untuk

mengambil kesimpulan bahwa tepung beras mengandung amilum berdasarkan

perubahan warna yodium menjadi biru.

b. Eksperimen terkontrol

Hubungan antara suatu variabel bebas dan variabel terikat dalam

fenomena-fenomena alam banyak yang tidak dapat diamati karena adanya

variabel lain yang berpengaruh terhadapa variabel terikat yang diamati.

Misalnya, pada suatu tanaman pot baru yang tanahnya diberi urea,

pertumbuhannya subur; tetapi tidak dapat disimpulkan begitu saja bahwa yang

menyebabkan subur adalah zat urea, karena orang berpikir bahwa faktor lain

juga dapat berpengaruh. Hubungan antara variabel-variabel seperti itu dapat

diajarkan kepada siswa dengan metode eksperimen terkontrol. Dalam metode ini

dibuat eksperimen dengan menggunakan dua kelompok tanaman pot yang

medium tanahnya sama, tetapi pada satu kelompok tanaman tanahnya diberi

urea sementara kelompok tanaman yang lain tidak diberi urea.

Dalam pelaksanaan metode eksperimen terkontrol, langkah-langkah yang

perlu dilaksanakan adalah: 1) pengajuan masalah, 2) pengajuan hipotesis, 3)

pengontrolan variabel (membuat perlakuan variabel bebas dan mengendalikan

varibel terkontrol), 4) pelaksanaan eksperimen, 5) pengolahan data, dan 7)

pengambilan kesimpulan. Dalam metode eksperimen terkontrol, kesimpulan

yang dibuat bersifat tertutup, artinya kesimpulan itu merupakan jawaban yang

pasti (tidak perlu dipertanyakan kebenarannya, atau tidak mengundang

munculnya masalah baru).

Contohnya sebagai berikut:

Masalah: “Mengapa tanaman padi di sawah ada yang daunnya lebih hijau dan lebih

panjang dari yang lain?

Hipotesis: “Tanaman padi yang hijau dipupuk dengan urea.”

Mengendalikan variabel: membuat dua kelompok perlakuan, satu kelompok dipupuk

urea, kelompok yang lain tidak dipupuk urea.

Pelaksanaan eksperimen: 1) melakukan penanaman padi dalam beberapa pot dengan

medium tanah yang sama, 2) pot-pot tanaman padi dibagi menjadi dua

kelompok, kelompok I dipupuk urea sedang kelompok II tidak dipupuk urea.

Pengamatan/Pengumpulan data: mengamati warna dan mengukur panjang daun

tanaman padi selama waktu tertentu.

Pengolahan data: 1) menghitung rata-rata data tinggi batang padi pada tiap perlakuan,

2) membandingkan rata-rata tinggi batang padi antara kelompok I dan

kelompok II.

Pengambilan kesimpulan: Menyimpulkan hasil pengolahan data tentang hubungan

antara urea dengan tinggi batang dan perubahan warna hijau pada daun.

Bab III

Penutup

Makalah dengan juduk Materi KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

KHUSUS BIDANG STUDI IPA BERBASIS TIK” akan lebih mudah dimengerti

dan lebih berguna sebagai bekal bagi siswa khususnya siswa SMK, apabila

pembelajarannya lebih diorientasikan pada Realitas dan Aplikasi dalam

kehidupan sehari-hari. Di samping itu pembelajarannya juga diarahkan dengan

tahapan-tahapan yang sistematis. Oleh karena itu, pembelajaran yang ada di

dalam modul ini masih perlu dikembangkan lagi khususnya dari segi orientasi

tersebut, agar dapat meningkatkan kemampuan Belajar IPA bagi siswa SMK.

Daftar Pustaka

1. Hadley. Linear Programming. 1962. Addison – Wesley Publishing

Company, AS

3. Soekartawi, Dr. Linear Programming: Teori dan Aplikasi, khususnya di

bidang pertanian. 1992. Rajawali.

4. Soewardi, Eddy, Drs. Linear Programming. 1984. Sinar Baru

5. Yamit, Zulian. Linear Programming. 1991. Bagian Penerbitan Fakultas

Ekonomi Universitas Islam Indonesia

6. Supranto, J, M.A. Linear Programming. 1983. Lembaga Penerbit Fakultas

Ekonomi Universitas Indonesia